Posted by PuJa on July 31, 2008
Jurnal Kebudayaan The Sandour edisi III 2008
Liza Wahyuninto
Pada tahun 1950, beberapa ahli sastra beranggapan bahwa kesusastraan mengalami kemunduran. Salah satu tokoh yang berpandangan bahwa kesusastraan Indonesia mengalami kemunduran adalah Sujadmoko. Dalam esainya yang berjudul Mengapa Konfrontasi, Sujadmoko melihat adanya krisis sastra akibat adanya krisis kepemimpinan politik. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sastra Indonesia mengalami krisis [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on July 26, 2008
Jurnal Kebudayaan The Sandour III 2008
PERNIKAHAN UNGU
Orang tuanya memang sudah sepakat untuk menjodohkan mereka, agar tali persaudaraan kedua keluarga itu tidak bertiup lembut, dan cairan ombak yang menghempas disana-sini memberikan irama gelisah, pada alam seputar yang telanjang.
Filed under: Novel
No Comments »
Posted by PuJa on
Sebuah statemen tak bisa mengelak dari klaim. Seperti “sumpah kaum muda” adalah klaim akan rasa memiliki: Indonesia yang bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu. Dan klaim tak memerlukan referendum “diterima atau ditolak” bergantung isi statemennya sendiri. Teks “Proklamasi” dipuja rakyat Indonesia karena dengannya, mereka bebas dari belenggunya.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on July 25, 2008
(menujum sedari tahun 1144 Saka, atas sepenggal Serat Pararaton Ken Arok, yang diguratkan Dokter J. Brandes, Mangkudimedja)
Nurel Javissyarqi*
Saya dengar di Daha sebentar lagi diselenggarakan pesta? Seorang jangga muda bertanya pada resi. Ya, sang Prabu Dandanggendis akan menggelar hajatan. Beliau mengundang seluruh pandeta, resi dan pujangga dari pelosok negri jajahannya. Daha (Ndoho, kini sebuah wilayah kecil [...]
Filed under: Canting
2 Comments »