Pahlawan Sejati

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Seperti kerlip bintang di tengah lautan bagi nelayan, yang kita perlukan hanya cahaya kecil di dalam gelap. Tetap setia menyala dalam badai dan hujan, membentuk jiwa manusia supaya berjuang mengalahkan nasib, membawa seluruh cita-citanya menjadi kenyataan. Continue reading “Pahlawan Sejati”

ESTETIKA WAYANG CERPEN AHMADUN Y HERFANDA

Maman S. Mahayana
mahayana-mahadewa.com

Ketika berbagai saluran komunikasi terhalang tembok besi kekuasaan, sementara segala aspirasi dan harapan mampat di tengah jalan, kesenian “khasnya sastra” kerap digunakan sebagai alternatif. Di sana, dalam balutan estetika, sastra coba bermain dan mempermainkan saluran yang mampat itu. Tembok besi kekuasaan dan pandangan orang terhadapnya, dapat disulap menjadi lelucon atau kisah-kisah yang terjadi di dunia entah-berantah. Jadi, sastra berpeluang memasuki wilayah apa saja, tanpa harus dibayangi kecemasan menghadapi kegagalan mencapai sasaran. Continue reading “ESTETIKA WAYANG CERPEN AHMADUN Y HERFANDA”

Sastra Perlawanan dan Ideologi Penciptaan

Ahmadun Yosi Herfanda*
http://www.infoanda.com/Republika

Dunia kaum pekerja (buruh) yang tertindas masih penting untuk disuarakan, agar jeritan mereka didengar dan nasib mereka menjadi lebih baik. Salah satu media terpenting untuk menyuarakan dunia kaum pekerja itu adalah sastra, terutama puisi, yang di kalangan buruh pabrik Tangerang, Banten, kini nyaris menjadi ekspresi sehari-hari untuk menyuarakan hati nurani mereka. Continue reading “Sastra Perlawanan dan Ideologi Penciptaan”

Tanpa Teori Tapi Disiplin

Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/

Bendera demokrasi yang telah berkibar sejak tahun 1998 hingga kini belum mampu menggaungkan sastra di telinga masyarakat yang makin terjebak dalam deru arus modern. Namun dunia sastra yang masih minim perhatian dan kurang diperhitungkan, dewasa ini makin menggeliat di sejumlah kolom-kolom koran daerah maupun nasional. Continue reading “Tanpa Teori Tapi Disiplin”

Mengkritisi Kritik Sastra

Sjifa Amori
http://jurnalnasional.com/

Harus terus digairahkan, di antara menderasnya karya-karya sastra Indonesia yang bermunculan.

Suatu kali, HB Jassin pernah berkata, “Seorang kritikus adalah manusia biasa.” Kalimat yang dilontarkan kritikus sastra terkemuka ini dituliskan kembali dalam Resume Mata Kuliah Kajian Puisi: Sajak Mengundang Asosiasi, Bukan Interpretasi, pada blog komunitas anak sastra. Continue reading “Mengkritisi Kritik Sastra”

Bahasa ยป