Posted by PuJa on February 27, 2009
Mohammad Kh. Azad
http://www.koran-jakarta.com/
Kebudayaan Iran dan Indonesia memiliki jalinan sejarah. Salah satu bukti yang mendukung hubungan sejarah itu adalah adanya persamaan sastra dan bahasa yang saling memengaruhinya. Keberadaan lebih dari 400 kata dari bahasa Persia pada bahasa Melayu yang masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari membuktikan eratnya hubungan ini.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on
Lugiena Dé*
http://pr.qiandra.net.id/
Dengan politik, pernyataan-pernyataan tak usah cocok 100% dengan fakta, tapi –seperti halnya puisi– harus bisa memesona. Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3
Entahlah, sekonyong-konyong di Sabtu pagi, ketika jongkok di tukang koran, saya tiba-tiba tergoda untuk ikut jabung tumalapung, setelah membaca tanggapan lebih lanjut dalam “Puitika, Politika, Retorika” yang ditulis oleh Ahmad Syubbanudin Alwy. Ya, semoga [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on
Soni Farid Maulana*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/
Kegiatan sastra yang dilakukan oleh komunitas-komunitas sastra di atas pada dasarnya lebih kepada acara mengundang orang untuk baca puisi, diskusi, dan menerbitkan buku. Sedangkan kegiatan yang membicarakan lahirnya kemungkinan daya estetik baru dalam penulisan karya sastra boleh dibilang tidak tersentuh.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on
Yopie Setia Umbara*
http://pr.qiandra.net.id/
MEMBACA kembali sajak berjudul “Menjadi Penyair Lagi” karya Acep Zamzam Noor yang bertiti mangsa tahun 1996, saya terpikat untuk lebih dekat dengan sajak tersebut. Sajak ini menjadi judul kumpulan puisi Acep Zamzam Noor Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007) dan meraih anugerah Khatulistiwa Literary Award 2007.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on
Beni Setia
http://cetak.kompas.com/
Struktur kumpulan puisi terakhir Acep Zamzam Noor, Menjadi Penyair Lagi, (Pustaka Azan, 2007), dibangun dua fondasi: “Ada yang Belum Kuucapkan” (AyBK), yang terdiri dari 53 sajak, dan “Menjadi Penyair Lagi” (MPL), yang terdiri dari 38 sajak. Bukanlah satu kebetulan bila kumpulan itu diawali dengan sajak “Setelah Mencintaimu” (dari AyBK) dan diakhiri sajak “Di Malioboro” [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on
Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Seniman sejati berkarya lantaran desakan hati nurani. Reputasi, kebesaran, dan popularitasnya, pertama-tama sangat ditentukan oleh kualitas karyanya. Maka sesiapa pun dia, dengan ideologi apa pun, dan dengan latar belakang kebudayaan mana pun, tetap akan sampai pada prestasi yang reputasional, jika ia berhasil membangun kualitas karyanya menjadi monumen! Tanpa kualitas, ia hanya akan menjadi [...]
Filed under: Edisi Khusus, Esai
No Comments »
Posted by PuJa on
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
Posisi sastra Indonesia kini sudah sedemikian terpuruk menjadi barang yang tidak relevan dalam konteks pendidikan. Sastra Indonesia sudah pailit. Anak-anak sekolah Indonesia hampir tak mendapat pelajaran sastra lagi. Dalam sebuah penyidikan informal, sastrawan Taufiq Ismail menemukan bahwa pelajar Indonesia membaca 0 (nol) buku di dalam kurun 3 tahun, sementara pelajar dari berbagai negara mencatat [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on
Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/
Bung Karno jadi presiden dalam usia 44. Soeharto memimpin gerilya ke Kota Yogya dalam umur 26. Ali Sadikin jadi gubernur ketika ia 39 tahun.
Apa yang menyebabkan keadaan seperti itu kini tak terjadi lagi? Kenapa kini, pada awal abad ke-21 ini, sejumlah orang harus berteriak, seakan-akan mendesakkan yang tak lumrah, memberitakan yang tak lazim, bahwa [...]
Filed under: Caping
No Comments »
Posted by PuJa on
Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/
Kalau teman di Lingkar Pena Asma Nadia, ada sebuah wawancara kecil dengan Kompas, seorang penulis perempuan berbakat pernah bilang begini: “Saya tidak ingin menyia-nyiakan talenta dari Tuhan dan menjadikan menulis sebagai salah satu bentuk ibadah.” Perempuan penulis itu adalah Helvy Tiana Rosa, yang saat ini dikenal sebagai penulis cerpen dan novel. Karyanya sudah dipublikasikan di [...]
Filed under: Canting
No Comments »
Posted by PuJa on
Evieta Fadjar
http://www.tempointeractive.com/
Jakarta:…Aku putramu, yang kau beri nama Wisrawana dan bergelar Danapati alias Danaraja ketika memerintah Praja Lokapala menggantikanmu, tak juga mengerti, sampai di mana kasihmu kepadaku. Ingatanku masih terpatri pada tragedi hidup yang pernah kau sulut dan membakar seluruh diri dan harapanku. Sayang, segalanya bermula begitu indah…
Filed under: Canting
No Comments »