Jalinan Sejarah Sastra Iran dan Indonesia

Mohammad Kh. Azad
http://www.koran-jakarta.com/

Kebudayaan Iran dan Indonesia memiliki jalinan sejarah. Salah satu bukti yang mendukung hubungan sejarah itu adalah adanya persamaan sastra dan bahasa yang saling memengaruhinya. Keberadaan lebih dari 400 kata dari bahasa Persia pada bahasa Melayu yang masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari membuktikan eratnya hubungan ini. Continue reading “Jalinan Sejarah Sastra Iran dan Indonesia”

Puitisasi Politik, Politisasi Puisi?

Lugiena D?*
http://pr.qiandra.net.id/

Dengan politik, pernyataan-pernyataan tak usah cocok 100% dengan fakta, tapi –seperti halnya puisi– harus bisa memesona. Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3

Entahlah, sekonyong-konyong di Sabtu pagi, ketika jongkok di tukang koran, saya tiba-tiba tergoda untuk ikut jabung tumalapung, setelah membaca tanggapan lebih lanjut dalam “Puitika, Politika, Retorika” yang ditulis oleh Ahmad Syubbanudin Alwy. Ya, semoga saja bisa menjadi bahan perbandingan. Okeh, kita mulai saja… Continue reading “Puitisasi Politik, Politisasi Puisi?”

Menjadi Tubuh Sendiri

Yopie Setia Umbara*
http://pr.qiandra.net.id/

MEMBACA kembali sajak berjudul “Menjadi Penyair Lagi” karya Acep Zamzam Noor yang bertiti mangsa tahun 1996, saya terpikat untuk lebih dekat dengan sajak tersebut. Sajak ini menjadi judul kumpulan puisi Acep Zamzam Noor Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007) dan meraih anugerah Khatulistiwa Literary Award 2007. Continue reading “Menjadi Tubuh Sendiri”

Diksi Traumatik Acep Zamzam Noor

Beni Setia *
cetak.kompas.com

Struktur kumpulan puisi terakhir Acep Zamzam Noor, Menjadi Penyair Lagi, (Pustaka Azan, 2007), dibangun dua fondasi: “Ada yang Belum Kuucapkan” (AyBK), yang terdiri dari 53 sajak, dan “Menjadi Penyair Lagi” (MPL), yang terdiri dari 38 sajak. Bukanlah satu kebetulan bila kumpulan itu diawali dengan sajak “Setelah Mencintaimu” (dari AyBK) dan diakhiri sajak “Di Malioboro” (dari MPL) yang memang diletakkan di pengujung. Continue reading “Diksi Traumatik Acep Zamzam Noor”

Bahasa ยป