La Runduma dalam Kentalnya Warna Lokal

Maman S. Mahayana
nfoanda.com/Republika

Dalam kentalnya warna lokal, cerpen La Runduma karya Wa Ode Wulan Ratna berhasil memenangkan juara pertama Sayembara Menulis Cerpen Creative Writing Institute (CWI) 2005. Cerpen yang mengangkat tradisi unik etnis Buton, khususnya tentang peristiwa upacara posuo ritual dalam tradisi pingitan adat keraton Buton itu sekaligus mewakili dominannya warna lokal pada hampir semua cerpen peserta sayembara tahunan ini, terutama yang terpilih sebagai cerpen terbaik. Cerpen Orang-orang Pos 327 karya Muhammad Nasir Age, yang menempati juara kedua, juga mengangkat persoalan lokalitas konflik Aceh sebagai tema sekaligus latar cerita. Begitu juga cerpen Abu Nipah karya Herman R yang meraih juara ketiga. Continue reading “La Runduma dalam Kentalnya Warna Lokal”

Enigma

Pringadi AS
http://reinvandiritto.blogspot.com/

Engkau selalu seolah paham: aku adalah makhluk paling kelam. Kulitku yang hitam legam setidaknya telah menjadi salah satu parametermu dalam menilaiku. Matamu bahkan akan selalu terpicing saat aku dengan pakaianku yang sudah compang-camping ini melewati rumahmu. Padahal aku tak pernah menganggumu. Tak pernah mengusikmu. Tapi selalu saja engkau mengusirku pergi, melemparku dengan kerikil-kerikil dari halaman rumahmu. Sebab katamu, aku adalah makhluk paling kelam. Hanya akan merusak pandangan matamu. Continue reading “Enigma”

Estetika Iblis Jilid II

Judul: Ular di Mangkuk Nabi
Penulis: Triyanto Triwikromo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: Pertama, Juni, 2009
Tebal: xi + 163 halaman
Peresensi : Saifur Rohman*
http://suaramerdeka.com/

DALAM alur sejarah kepengarangan Triyanto Triwikromo, kiranya kumpulan cerpen Ular di Mangkuk Nabi (Gramedia: 2009) merupakan produk dari proses kreatif jilid kedua. Continue reading “Estetika Iblis Jilid II”

TEMU SASTRAWAN INDONESIA II di Pangkalpinang, Bangka Belitung

Budhi Setyawan
http://budhisetyawan.wordpress.com/

Pada tanggal 30 Juli s.d 2 Agustus 2009 diadakan acara Temu Sastrawan Indonesia II di kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung. Pertemuan tersebut merupakan rangkaian dari pertemuan serupa setahun sebelumnya di Jambi. Tema TSI II adalah Sastra Indonesia Pascakolonial; dengan beberapa subtema: (1) Merumuskan Kembali Sastra Indonesia: Definisi, Sejarah, Identitas; (2) Kritik Sastra Indonesia Pascakolonial; (3) Membaca Teks dan Gerakan Sastra Mutakhir: Mencari Subyek Pascakolonial; (4) Penerjemahan Sastra: Keharusan, Pilihan, atau Sekadar Perkenalan? Continue reading “TEMU SASTRAWAN INDONESIA II di Pangkalpinang, Bangka Belitung”

Bahasa ยป