Home | Login

Sastra-Indonesia.com

Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)

  • About
  • Archives

    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • October 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • July 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
    • December 2008
    • November 2008
    • October 2008
    • September 2008
    • August 2008
    • July 2008
  • Blogroll

    • Media Dunia Sastra
    • Media Sastra Indonesia
    • Media Sastra Jatim
    • Media Sastra Nusantara
    • Pembebasan Sastra
    • Puisi-Puisi Indonesia
    • PUstakapuJAngga.com
    • Sajak-Sajak Pertiwi
    • Sastra Gerilyawan
    • Sastra Pemberontak
    • Sastra Perlawanan
    • Sastra Tanah Air
    • World Letters
  • Recent Comments

    • Melani SWH on Bermuka Dua
    • Agus Salim al Jombangi on Batu-Batu di Gunung Parang
    • Esperança do Borneo on Luís Vaz de Camões atas bumi Nusantara
    • anton sulistyo on Puisi-Puisi Beni Setia
    • Setiadhi P on Wisata Buku Lawas di Yogyakarta
  • Tags

    A. Qorib Hidayatullah Arie MP Tamba AS Sumbawi Beni Setia Binhad Nurrohmat Budaya Cangel Canting Caping Cerpen D. Zawawi Imron Damhuri Muhammad Edisi Khusus Esai Fahrudin Nasrulloh Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Haris del Hakim Hudan Hidayat Imamuddin SA Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Mashuri Nurel Javissyarqi Prosa Puisi Putu Wijaya Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Resensi Revolusi S. Jai Sajak Sastra-Indonesia.com Satmoko Budi Santoso Seni Sihar Ramses Simatupang Sjifa Amori Sunaryono Basuki Ks Sungatno Suryanto Sastroatmodjo Sutejo S Yoga Wawancara
  • Since Sep-03 '09


    • widget
  • Live traffic

  • Locations of visitors to this page

    Parade Puisi Imamuddin SA

    Posted by PuJa on January 28, 2010

    SEMBAH RINDU SANG KEKASIH

    sepanjang musim rindu
    biarlah ia membungkam waktu
    menutup layar-layar malam
    membuta kelopak siang
    menidur tiap pandang
    hanya kasih,
    dia seorang
    segala rasa racik memburu
    berbentur segurat tubuh
    giring-menggiring gelombang nurani
    dalam kilau sendang imaji
    akan galauan nurani
    pagi ini,
    ia percik sepingit hati
    telah terbeku
    di lampau hari,
    sang kekasih
    kasih, sampai batas waktu
    tak bincang aku
    di pangkumu
    dalam gurat cintaku
    sebab tiap kan kuseru
    cakrawala tanya mengikat lenggang anganku
    sungguh, batu-batu itu
    menindih sapaku
    dalam terali bisu,
    nada-nadanya bergemuruh
    menyayat selaksa petir berderu
    ssst ……
    dengar, kembali ia berseru
    lewat segesit laku:

    ”hai, sekarang apa
    penyulammu tuk tebar melati cinta
    padanya?”

    lirih sahutku:
    “segala cantik
    kasih sayangnya
    membius aku tuk memadu”

    “sungguhkah itu?
    kala secantik diri ternodai
    kasih sayang berlayang
    menjenguk kebencian
    pastilah kau tarik kembali
    rasamu”

    terpatung aku bersama
    serenung hati sunyi
    tak meracik jawaban semi
    di pusar bening itu,
    tanpa pagi
    tiupan nada bergeming
    lewat sukma lain
    membias dalam pesona hening

    “jangan kau gigil tanahmu
    kala keberadaanku,
    aku kadangmu
    lama tertimbun nafsu”

    “mengapa kau hadir
    menyapaku?”

    “aku kurir kasihmu
    tuk melepas simpul panggulmu”

    “kasih yang mana?”

    “adalah jati kasihmu
    jauh tak kau seru
    di ujung waktu”

    “lalui gelanggang mana kau sampai padaku,
    adalah segala pintu
    telah tertutup
    petamu?”

    “ya, ini lalaimu,
    kala tersumpal semua cela
    adalah lorongku yang merona”

    “baiklah, jika kau sungguh
    kurir kasihku
    singkap misteri tabirku”

    “saudaraku, bisik padanya
    sebatas keberadaan hanya
    kau labuhkan raga,
    ya, sonanya
    terlukis di kedalaman rasa
    logika tanda,
    pun kau mabuk bentuk segala
    gerak tentunya
    sebab seayu kasih tak kan terbercak darah
    dalam bayang-bayang kelopak maya,
    jaring-jaring benci
    tidaklah merajut diri,
    ia hanya penenun kasih
    sayang
    lewat dawai tak semelodi
    di gaun jemari
    saudaraku, gumam klebat suaraku
    pada pelambung tanya itu:

    berbelah-lah
    buih suka
    dalam bening tirta
    gelombang cinta
    saudaraku, panggulmu
    talah kucincingkan
    aku kan terbang melayang
    menghapus jasad di sinar matamu
    bersama nafas penyeruku”

    pun berlayang ia
    dari puitika kisah,
    namun dengan sekedip mata
    gemuruh nyanyian-nyayian tanya
    kembali, berseru
    selaksa kuda pacu menyerbu

    “kala kau karang syair cinta
    dari nafas bunga-bunga
    padanya,
    kau tuang apa
    dala cawan sembahmu?”

    dengan sentakan itu
    pun aku membatu,
    memaksa bersapa
    kadang yang lalu

    “datanglah saudaraku,
    balik kepak sayapmu
    tuk meraba pelatarku
    biar kau hempas
    sampah-sampah khayalku”

    tembang itu menarik
    membawa ia ke peluk sedarah
    bersetubuh bersamaku yang mengerang tanya

    “kusemat jasadku
    di pelatarmu
    sebab lirik sendumu:

    saudaraku, jamalah kasih bersama
    nafas dan jemari ayu,
    pahatlah cangkir sembahmu
    dengan salukis asma kasihmu,
    ramulah anggur tulusmu
    dalam seikhlas madu,
    pun lepas galanya
    pada yang terindu
    ingatlah saudaraku,
    sekar cinta tak kan membawamu
    dalam nostalgia bilal bin raba
    lalu
    lewat ulur sembahmu,
    namun kau kan terlepas
    dari bentuk semu
    sebab ia terseru
    kasih tak layu.
    dengarlah saudaraku,
    tiap pemburu cinta
    di muara, mendekap bidiknya
    sebab yang terburu pasti
    rekat menyapa
    tak kan berlari
    entah ke mana
    tiada terlepas selamanya,
    pun jarik cinta terbatik
    tanpa tendensi
    hanya lewat canting tulus hati

    saudaraku, kenanglah!
    kala sang kekasih telah bersapa
    adalah nuansa mesra
    dalam roman cinta semesta
    ya, hanya sebatas itu
    selayang lirikku,
    kini biarlah kupergi
    bergapai singgahsana diri
    melayang tanda bagi yang terkasih”

    “bersama segala kasih
    kulepas simpul benangmu
    pengikat jejak bimbang jiwaku,
    saudaraku, lantun kidungmu
    kan kubeku
    di bening kalbu
    lalui sungai nada:

    laa khaula walaa kuwwata illa billah,
    terlaga
    bagai sembah rindu sang kekasih
    setia, semoga”

    Kendalkemlagi, Juli 2005

    ESENSI BAYANG-BAYANG

    seklebat bayang-bayang berlari
    menghempas imaji
    terduduk di selembar permadani;
    bumi
    pelarian membawa padmasari

    bersama peleburan hasrat
    mengalir lewat tirta wening
    menembus alam hening
    singgah dalam ruang terasing

    suatu metamorfosa padmasari
    menjemput kesempurnaan diri

    adalah waktu terus merayu
    melembahkan martabat menjenguk madu
    di relung mayapada laku
    bukan lara besatu; membatu

    tiap padmasari melenggang dalam imaji
    mengejar kembali

    Kendalkemlagi, 2005

    SENDIRI KAU HADIR

    waktu tetap terpaku
    melepas klise
    dengan mata memutih
    mencari jalan kembali
    adalah seberkas bayang tertatih
    setubuhi benang-benang nadi
    dalam menyapa diri sendiri
    maka berapa kilo lagi
    ia mencari
    melenggang jemari
    bergapai mimpi
    sampai batas waktu
    tiktak jarum pun berlagu;

    ia harus bersemayam sendu
    menanti seiring keretamu
    dengan tembang merdu
    berjemput ia di pangkumu
    pun sendiri kau hadir merayu
    membawa terbang ke istanah nan jauh

    Kendalkemlagi, 2005

    ANGGUN SASMITA

    kueja nama itu
    bersama kasih cintamu
    kala gebu rindu
    menyelinap
    di hilir darahku
    bukankah serapah
    telah terukir berdua
    lewat saksi terlama
    dalam pesona delta kelana;

    “tidaklah sebatas asma
    namun esensi rasa lelangkah,
    adalah percik anggun sasmitamu
    menjelma denyut jantungku”

    Kendalkemlagi, 2006

    SASMITA KEMBANG WIDERDA

    kasih, biarlah ia
    membawamu kembali
    pada pesona telaga widerda
    di mushaf cerita lama
    angankan anganmu
    dalam persapaan itu
    adalah sebentuk hasrat menggebu
    melayang-layang bekejar bersama nafsu
    merayu
    sungguh, kala nuansa
    membangun pilar-pilar semesta
    kembang-kembang telaga
    bersenandung puja pujinya
    menebar sasmita nada;

    “gala nista merajut gaun-gaunmu
    lewat percak-percik itu
    biarlah sang jentayu
    memangsa hasratmu
    biar berdekap jati cintamu,
    namun pingitlah pesona rasa
    dalam cakap puitika cerita;

    adalah gejolak hati
    tiada berlari
    kala keberadaan diri
    mengukir tanda tak senilai,
    sungguh, kala rona telah bersama
    tiada hasrat bersapa tak serupa,
    sonanya
    hanyalah manifestasi pupus cinta

    Kendalkemlagi, 2006

    Filed under: Puisi

    2 Responses to “Parade Puisi Imamuddin SA”

    1. Octa, on February 2nd, 2010 at 6:28 am Said:

      Saya mau menulis puisi, saya ingin menerbitkannya, saya ingin mempublikasikannya. Saya harus berkonsultasi dan kemana??? agar impian saya terwujud….Terimakasih. Punyakah alamat-alamat penerbit atau media yang menerima karya, meski tanpa bayaran saya bersedia.

    2. PuJa, on February 2nd, 2010 at 4:22 pm Said:

      Kalau masih “mau” menulis puisi, ya selamat menulis puisi. Bagaimana kalau anda tidak bertanya, tapi mencari informasi sendiri? Bagaimana kalau anda tidak tergantung, tetapi berusaha sendiri?

      Salam,
      Nurel Javissyarqi, Pengelana

    Leave a Reply

    «Satu Wajah, Dua Muka… André Chénier (1762-1794) »

    ©2008-2009. Sastra-Indonesia.com. By PUstakapuJAngga.com. All rights Reserved