Posted by PuJa on March 9, 2009
http://sajak-sajak-pertiwi.blogspot.com/
Di Telaga, Aku Ingin Menggambar Purnama
peluh parak sunrise ‘kan menjelma lautan
teriakan elan menggemuruh ombak
biar hancur di dada batu hitam
lalu menyeret pasir tanda lancut tiada
dan jarum jam dinding ‘kan mencatat
di tiap detik melahirkan para sejarawan
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on January 27, 2009
AS Sumbawi
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
“Yap. Selesai sudah.” Kucoba mengangkat tas ransel yang memuat segala kebutuhan. Lumayan berat. Dari luar kudengar Bondan memanggil. Aku keluar.
“Bagaimana? Sudah beres?” katanya.
“Sip. Beres.”
“Ayo, sudah ditunggu yang lain!” katanya memberi isyarat menunjuk ke jalan. Di sana kulihat sebuah mobil van parkir.
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on December 19, 2008
AS Sumbawi
http://media-sastra-nusantara.blogspot.com/
Bus kota yang sesak dengan penumpang ini pun memperlambat lajunya setelah dua orang perempuan berpakaian pramuniaga sebuah toko yang berdiri dekat pintu depan memberi isyarat untuk turun. Perlahan Saya merangsek maju. Dan ketika bus kota berhenti di depan sebuah mall, Saya sudah berada di belakang mereka berdua. Bersiap turun pula.
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on December 11, 2008
AS Sumbawi
http://media-sastra-indonesia.blogspot.com/
Dua puluh tahun yang lalu, aku dilahirkan oleh seorang yang kukenal sebagai ibu. Ibuku seorang perempuan. Akan tetapi, hingga saat ini, belum pernah terjadi percakapan tentang seorang perempuan di antara kami. Padahal, aku sudah bukan kanak-kanak lagi, melainkan seorang laki-laki. Barangkali karena tinggal jauh dari rumah, aku jadi jarang bertemu dan berbicara dengannya. Hanya [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on December 10, 2008
AS Sumbawi
http://sastragerilyawan.blogspot.com/
Pada KBU sebuah wartel laki-laki itu kecewa. Perempuan itu tidak mengizinkan dirinya datang.
“Jangan marah, ya. Jangan marah….”
“Iyaa………”
“Bener. Jangan marah, ya!”
“Ya, santai saja. Santai, santai, santai,…”
Mereka diam.
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on December 5, 2008
AS Sumbawi
http://media-jawatimur.blogspot.com/
Tak pernah kuduga sebelumnya aku akan mengunjungi desa Sri Kahyangan. Aku tak punya sanak keluarga, teman, guru, pacar yang tinggal di sana yang memberiku alasan untuk itu. Namun, kini aku sudah tinggal di desa itu selama dua minggu. Menurut rencana, aku masih akan tinggal di sana sekitar satu bulan setengah lagi. Dan ini adalah [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on December 3, 2008
AS Sumbawi
http://sastrapemberontak.blogspot.com/
Ia telah kubunuh. Kuceraikan anggota tubuhnya bagian perbagian. Kemudian potongan-potongan yang masih mengeluarkan darah itu kumasukkan ke dalam kantong plastik hitam.
Puas sudah hatiku. Plong. Apa yang selama ini menjadi obsesi terbesarku telah tercapai. Ia sudah tak berdaya. Tidak menakutkan lagi. Mampus oleh tanganku. Ya, aku tak rela ia mati dengan cara terhormat. Ia tak [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on
AS Sumbawi
http://media-sastrajatim.blogspot.com/
Perkenalanku dengan Din berlangsung kebetulan. Malam itu, aku pergi ke warung angkringan untuk mengusir kesuntukan setelah seharian duduk di hadapan komputer. Di sana, kulihat beberapa orang teman duduk melingkar di atas tikar di bawah pohonan. Mereka tampak terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan sembari menikmati sebatang rokok dan segelas minuman. Tentu saja, aku bergabung dengan [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on November 30, 2008
AS Sumbawi
http://sastra-perlawanan.blogspot.com/
Sejujurnya, barangkali kita akan membawa lari ketakukan kita saat mengetahui seseorang berdiri di pinggir jalan dengan membawa senapan yang siap mengambil nyawa manusia. Apalagi dandanan seorang itu begitu menyeramkan. Bermata tajam elang yang memburu mangsa dan bertubuh besar seperti raksasa.
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on
AS Sumbawi
http://sastra-tanah-air.blogspot.com/
Sebagai seorang laki-laki, sebenarnya berapa teman perempuan anda? Hanya beberapa. Atau sepuluh. Seratus. Seribu. Barangkali seratus ribu dua ratus lima puluh enam. Tak terhitung. Ya, terserah berapa anda menyebutkan. Akan tetapi, Saya pasti akan meragukan jika anda mengatakan bahwa teman perempuan anda sebanyak jumlah perempuan yang hidup di dunia sekarang ini. Apakah benar demikian?!
Filed under: Cerpen
No Comments »