Posted by PuJa on July 30, 2010
Beni Setia
http://www.lampungpost.com/
1.
MARLA, siswa SMA kelas III itu, tertegun. Ragu-ragu ketika memasuki Leisure Café saat terik matahari mulai lena dan azan zuhur di Masjid Al Arifiah– seratus lima puluh meter dalam kampung, lewat gang di samping kafé–lama reda. Bertepatan dengan Aswad, koki yang gegas mengejar salat berjamaah itu, balik tak gegas. Abai.
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on
Beni Setia
http://www.surabayapost.co.id/
INI adalah tenung. Ini adalah sihir yang membuat aku membatalkan naik ferry Ujung-Kamal paling pagi, dan memilih singgah di HI, Hotel Islamiah — yang berupa musala di dermaga penyeberangan. Menyapa penjaganya, yang sejak kanak aku kenal di Batang-batang, dan bahkan diajari huruf hijayiah, bacaan surah-surah pendek dan cara benar bersembahyang di mesjid kecil di [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on July 26, 2010
Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/
TULISAN Indra Tjahjadi (Suara Karya, 18/11. 2006), dengan konteks perpuisian dekade 80-an mengapungkan tiga poin. Oleh Indra Tjahjadi diungkapkan adanya dua genre perpuisian yang dominan di dekade 1980-an. Pertama, corak puisi gelap yang dominan. Dua, corak puisi sufistik yang signifikan menggejala. Dan ketiga: posisi kepenyairan Aming Aminoedhin dalam peta perpuisian saat itu.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on
http://www.suarakarya-online.com/
RUMAH
angin mengelus daun bambu di 3 batang kerdil aur kuning yang tumbuh dekat kolam kecil di halaman sempit perumnas: pagar besi dan jalan beton berkait kelingking. sekongkol memaksa mobil bergegasmendorong debu berlerot-orang-orang enggan tersenyum angin itu duduk di bubungan mengenangkan ladang bambu dan setapak kampung direnda parit
Filed under: Puisi
No Comments »
Posted by PuJa on July 19, 2010
Beni Setia
http://www.korantempo.com/
SERATUS tahun lalu di sana tak ada pohon beringin. Dua ratus tahun kemudian di sana tetap tak ada pohon beringin. Meski, kata pemandu wisata, sekitar tujuh ratus tahun lalu di sana memang pernah tumbuh pohon beringin. Mula-mula kerdil, secetus biji yang terbawa burung terbang. Lalu tumbuh, besar dan rimbun sebagai gumpalan di tengah semak [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on July 3, 2010
Beni Setia
SUDAH sejak lama orang berpikiran, kalau membuat puisi itu hanya bermain kata-kata, membuat penggalan-penggalan kalimat dengan rentetan (keberadaan) kata-katanya itu sengaja dihadirkan dan diikat oleh semacam hukum permainan bunyi yang diulang-ulang, persanjakan. Acuan sederhana kreasi yang melahirkan banjir produksi, dan melahir sinisme tentang ujud kepenyairan yang terkesan melulu menginpetarisasi orang nyinyir yang suka mrepet [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on June 9, 2010
http://cetak.kompas.com/
Dini Hari
bagai bangkai memendam larva
sebelum belatung muncul, bagai
daun-daun luruh dicumbu hujan
sebelum terurai humus ladang bambu
: setapak dalam kabut. merentang
jadi tiada di dekat kuburan. angin
menyapu cuat ranting meluruhkan
embun. satu-dua gemeritik dari pipi
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on May 20, 2010
Beni Setia
http://entertainmen.suaramerdeka.com/
PINTU terbuka. Lelaki langsing hanya berkaus masuk, dengan secangkir kopi dan rokok terselip di bibir. Ia menutup pintu dengan sepakan kecil kaki kiri. Melangkah tenang, nyaris tanpa bunyi debap sepatu. Meletakkan cangkir kopi -ruapnya menimbulkan kesan intim ruang tamu, dan bukan ruang interogasi. Menarik kursi. Duduk. Memainkan ujung bara, membersihkan sisik sisa pembakaran yang [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on April 22, 2010
Beni Setia
http://suaramerdeka.com/
WA ITAM seperti berusia empat puluh dua tahun. Saya katakan seperti –karena saat ditelusuri ke Pesantren Bayabah, Garut, kiai di sana mengerutkan kening. “Kiai Dullah itu buyut saya,“ katanya.
Saya mengusap wajah,–istigfar. Kiai yang ditemui di pesantren narik kolot *)itu masih muda, mungkin berusia 39 tahun, dan sangat gampang ditemui karena pesantren itu sangat sunyi [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on April 16, 2010
Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/
AWAL dari fiksi berlatar Sriwijaya setebal xiv + 454 halaman ini, lihat Yudhi Herwibowo, Pandaya SriwijayaTTK2 Dendam dan Prahara di Bhumi Sriwijaya, Sebuah Novel, Bentang Pustaka, September 2009-adalah cinta buta Pramodawardhani, putri pewaris tahta Samaratungga dan keponakan Balaputradewa, si pemangku estafet trah Sailendra. Yang memutuskan menikah dengan Jatiningrat, keturunan Sanjaya, hingga kuasa atas Mataram [...]
Filed under: Esai
No Comments »