Home | Login

Sastra-Indonesia.com

Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)

  • About
  • Archives

    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • October 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • July 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
    • December 2008
    • November 2008
    • October 2008
    • September 2008
    • August 2008
    • July 2008
  • Blogroll

    • Media Dunia Sastra
    • Media Sastra Indonesia
    • Media Sastra Jatim
    • Media Sastra Nusantara
    • Pembebasan Sastra
    • Puisi-Puisi Indonesia
    • PUstakapuJAngga.com
    • Sajak-Sajak Pertiwi
    • Sastra Gerilyawan
    • Sastra Pemberontak
    • Sastra Perlawanan
    • Sastra Tanah Air
    • World Letters
  • Recent Comments

    • Melani SWH on Bermuka Dua
    • Agus Salim al Jombangi on Batu-Batu di Gunung Parang
    • Esperança do Borneo on Luís Vaz de Camões atas bumi Nusantara
    • anton sulistyo on Puisi-Puisi Beni Setia
    • Setiadhi P on Wisata Buku Lawas di Yogyakarta
  • Tags

    A. Qorib Hidayatullah Arie MP Tamba AS Sumbawi Beni Setia Binhad Nurrohmat Budaya Cangel Canting Caping Cerpen D. Zawawi Imron Damhuri Muhammad Edisi Khusus Esai Fahrudin Nasrulloh Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Haris del Hakim Hudan Hidayat Imamuddin SA Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Mashuri Nurel Javissyarqi Prosa Puisi Putu Wijaya Rakhmat Giryadi Raudal Tanjung Banua Resensi Revolusi S. Jai Sajak Sastra-Indonesia.com Satmoko Budi Santoso Seni Sihar Ramses Simatupang Sjifa Amori Sunaryono Basuki Ks Sungatno Suryanto Sastroatmodjo Sutejo S Yoga Wawancara
  • Since Sep-03 '09


    • widget
  • Live traffic

  • Locations of visitors to this page

    Valentine

    Posted by PuJa on March 10, 2010

    Putu Wijaya
    http://putuwijaya.wordpress.com/
    Ami heboh membongkar-bongkar almari. Dia mencari baju yang berwarna pink. Setidak-tidaknya yang bernuansa pink. Ada pesta Valentine di kampus. Warna itu menjadi tiket masuk. Warna lain akan ditolak. Kecuali mau beli kaus oblong dari panitia yang berwarna pink. Tapi harganya selangit.
    “Buat apa beli kaus oblong 200 ribu, kan pakainya juga hanya sekali,”kata Ami terus [...]

    Filed under: Cerpen No Comments »

    Metamoforsis Sepatu Lubang

    Posted by PuJa on

    Denny Mizhar
    Farfa mulai berlatih menari sebelum teman-temannya datang. Diputarnya musik dari ciptaan Mozart. Lincah kaki digerakkan, gemulai tangan dimainkan, menjaga keseimbangan tubuh dan membentuk gerakan-gerakan indah. Gadis-gadis seusianya mulai berdatangan, ada yang bersama orang tuanya, banyak diantar oleh pembantunya; orang yang dijadikan robot olehnya; bekerja sesuai perintah.

    Filed under: Cerpen No Comments »

    Angin September*

    Posted by PuJa on

    Pringadi AS
    http://reinvandiritto.blogspot.com/
    (Aku ucapkan salam, dari lubuk terdalam)
    Langit-langit, lalu langit.
    Kautahu, angin September selalu menawarkan cinta; asmara muda berwarna jingga, cumbu anomali pada pancaroba. Bimbang. Nada sumbang. Lebih hampa dari kemarau yang ingin segera hilang; hujan menggempalkan kerinduan.

    Filed under: Cerpen No Comments »

    Kota-kota Kecil Penyanggah Kota Kecil

    Posted by PuJa on March 9, 2010

    Raudal Tanjung Banua*
    http://www.jawapos.com/
    KARYA seni adalah persimpangan jalan, tulis Milan Kundera1, saat ia kubaca dalam perjalanan. Bahuku terguncang karena batu dan lubang jalanan, tapi kuteruskan membaca, menyusuri sebuah pikiran. Jumlah jalan yang bertemu, lanjut Kundera, akan menentukan mutu seninya. Aku berpikir, jika kota dapat dikatakan sebagai karya seni, jalanan seperti apakah gerangan yang akan menentukan mutu [...]

    Filed under: Cerpen No Comments »

    Surat Untuk Tuhan

    Posted by PuJa on March 6, 2010

    Penulis: Gregorio Lopez y’ Fuentes
    Penerjemah: Saut Situmorang
    dari READER’S DIGEST GREAT SHORT STORIES OF THE WORLD
    http://reinvandiritto.blogspot.com/
    Rumah itu – satu-satunya di lembah itu – terletak di puncak sebuah bukit yang rendah. Dari situ nampak sungai dan, setelah tempat kandang binatang, nampak ladang jagung yang sudah matang diselang-selingi bunga-bunga kacang yang menjanjikan musim panen yang baik.

    Filed under: Cerpen No Comments »

    Melankolia, Seusai Neruda

    Posted by PuJa on

    Pringadi AS
    http://reinvandiritto.blogspot.com/
    I.
    Cicak-cicak di dinding
    Diam-diam merayap
    Saya masih saja menatap ke dinding, ke jam dinding. Menatap jarumnya yang terus bergerak menghitung detiknya sendiri – detik yang entah kapan akan berhenti di kematiannya. Tapi, saya sama sekali tidak sedang memikirkan kematian. Saya malah sedang berpikir bagaimana caranya hidup, caranya bertahan hidup.

    Filed under: Cerpen No Comments »

    Tarot

    Posted by PuJa on March 5, 2010

    Sunlie Thomas Alexander
    http://www.suaramerdeka.com/
    Five of Cups
    KAU tahu, setiap orang pasti menginginkan nasibnya selalu bagus…
    Tetapi bukankah tidak setiap kartu yang kaubuka bakal menunjukkan hal yang baik? Karena itu, agak tersendat kau menjelaskan makna kartu-kartu itu kepadanya, juga hubungan antara kartu yang satu dengan kartu lain. Kau berusaha menekan suaramu agar terdengar lebih lembut dan bersimpati, tentunya sembari [...]

    Filed under: Cerpen No Comments »

    Tatapan Mata Anjing Itu

    Posted by PuJa on

    Imam Muhtarom
    http://www.suaramerdeka.com/
    AKU sangat berharap lelaki itu datang tepat ketika aku sudah duduk di kursiku. Lelaki itu sangat kubenci. Perawakannya yang menyebalkan seperti merasuk dalam benakku. Kami ingin memukulnya saja bila ada kesempatan. Tetapi sulit sekali kesempatan itu datang. Justru lelaki itu yang sesungguhnya memiliki kesempatan untuk membuat diriku terpelanting dari dudukku selama ini. Lelaki itu [...]

    Filed under: Cerpen No Comments »

    Harimau Kumbang

    Posted by PuJa on

    Romi Zarman
    http://www.suaramerdeka.com/
    KAU SEBUT harimau mati meninggalkan belang. Lupakah engkau pada harimau kumbang? Tubuhnya tak berbelang. Badannya hitam serupa kumbang. Dan bila kau sudah dikejar, maka tak akan ada jalan keluar. Kemana pun kau menghilang, harimau kumbang akan mengejar. Ia tak seperti harimau belang. Kaubisa saja lari ke atas batang. Tapi tidak untuk harimau kumbang. Ke [...]

    Filed under: Cerpen No Comments »

    Pulung Gantung

    Posted by PuJa on

    Mahwi Air Tawar
    http://suaramerdeka.com/
    MARDI tersentak dan lekas beranjak. Sementara, ngiokkeokkoak…, suara burung gagak dari sela balik ranting-ranting kering bergelantungan membuat suasana perkampungan yang sunyi semakin mencekam. Dan sontak, setelah tak seberapa lama jedah dari suara burung gagak itu, terdengar suara lecutan rotan disertai lengking panjang seseorang.

    Filed under: Cerpen No Comments »

    Next Page »

    ©2008-2009. Sastra-Indonesia.com. By PUstakapuJAngga.com. All rights Reserved