Posted by PuJa on July 31, 2010
Isbedy Stiawan Z.S.
http://www.lampungpost.com/
PADA hari kesembilan dari pertemuanku yang pertama dengan Susan, sehabis isya kami berjumpa lagi di tempat sama–perjumpaan tanpa sengaja. Kutegaskan tidak sengaja, sebab tanpa didahului dengan perjanjian karena aku tak pernah menghubunginya melalui telepon selular sekadar helo. Apalagi sampai saling mengirim pesan pendek. Bahkan aku hampir saja sudah lupa dengannya, lupa dengan pertemuan [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on July 30, 2010
Nurhandayani
http://www.lampungpost.com/
SUARA merdu yang mengalun dari gesekan biolamu selalu dapat membawaku kepada mimpi-mimpi terdahulu, yang pernah kugantungkan pada langit-langit dan kulupakan begitu saja. Untuk alasan yang tak pernah kumengerti, tak kulanjutkan mimpi itu. Mimpi itu pun terlupakan sampai akhirnya aku menemukanmu.
Dan kini mimpi itu mencuat kembali…
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on
Beni Setia
http://www.lampungpost.com/
1.
MARLA, siswa SMA kelas III itu, tertegun. Ragu-ragu ketika memasuki Leisure Café saat terik matahari mulai lena dan azan zuhur di Masjid Al Arifiah– seratus lima puluh meter dalam kampung, lewat gang di samping kafé–lama reda. Bertepatan dengan Aswad, koki yang gegas mengejar salat berjamaah itu, balik tak gegas. Abai.
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on
S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/
KEMUDIAN yang tertinggal penggalan kenang yang hampir tanggal. Bertandang dari laman-laman masa silam. Pada setiap waktu yang kita ramu. Pada warta-warta terkata.
Ketika masa mengaribkan kita, kau wanodya penuh ria. Aku suka menghitung tapakmu di antara bunga rumput dan bebatu. Dengan cengkrama yang selalu berbeda, kau wedarkan segala ruah rasa. Dalam tawa dan nelangsa, kau [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on
Imaduddin Zanki
http://www.lampungpost.com/
DARAH Saifuddin Muzaffar Quthuz mendidih. Senarai surat dari Hulagu Khan, pemimpin besar bangsa Mongol, ia lipat. Meski wajahnya yang putih terlihat memerah, Quthuz mencoba menenangkan diri. Mulutnya lamat-lamat beristigfar. Ia tahu dia adalah dari kelas pekerja Bani Mamluk. Namun, sekarang, ia adalah mata rantai kekuasaan Islam yang tersisa. Abbasiyah di Bagdad sudah jatuh. Satu [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on
Muhammad Muis
http://www.lampungpost.com/
HARI masih pagi benar. Sesekali masih terdengar kokok-kokok ayam dari seputar rumah dan kebun-kebun penduduk. Burung-burung riang bercericit gembira beranjak dan terbang dari sarang-sarangnya dan mulai beterbangan kian kemari, bersenda gurau menyambut pagi, menyambut hari baru. Halimun masih menyelimuti desa kecil itu. Di ujung pematang, di kejauhan, di antara rimbun pepohonan, belukar, dan gunung [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on
Swandini Wiratmo
http://www.lampungpost.com/
SUARA orang ber-uro-uro tembang Jawa terdengar gamblang di lereng Merapi. Ditingkahi angin yang sejuk, para pria tampak nikmat menghisap rokok linting klembak menyan, dari tembakau irisan. Bau kemenyannya menyebar ke mana-mana dan membuat pusing.
Enam penari serimpi meliuk-liuk lemah gemulai. Orang-orang desa, tua, muda, dan anak-anak asyik menyaksikan pementasan geladi resik wayang orang di Padepokan [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on
Benny Arnas
http://www.lampungpost.com/
Julia, maafkan aku
baru kini aku kuasa memberitahumu
dalam kertas bergulung yang kurekat dengan
getah pohon mapel
sungguh, aku tak pernah mampu membuat puisi
-termasuk susunan kata-kata ini
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on
Sunlie Thomas Alexander
http://www.lampungpost.com/
DI Bubus tak ada wayang, selain ponton-ponton1 terus memanjang. Berjejer dari ujung ke ujung; dari lantai pantai hingga jauh ke tengah laut China Selatan. Membuat ombak yang biru berubah kecokelatan oleh solar, lumpur, dan sampah polutan.
Dan terkadang mereka saling menyalib. Entahlah, membuat ombak kian berbuih. Sehingga ketegangan pun sering terbangun diam-diam, memanas terpanggang [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on
Syaiful Irba Tanpaka
http://www.lampungpost.com/
Setiap menjelang pagi mata Wie dibasahi butiran embun. Seperti di atas daun, butiran embun itu tampak bulat bening dan segar. Dan bila matahari muncul menyinarinya; butiran embun itu berkilau-kilauan bak permata sehingga membuat mata Wie bercahaya. Dan bila itu terjadi, maka setiap orang akan terpukau memandang kecantikan Wie yang berubah seperti bidadari.
Filed under: Cerpen
No Comments »