Posted by PuJa on June 22, 2010
Damhuri Muhammad*
http://www.jawapos.co.id/
BILA tidak ingin celaka, jangan melintas di Jembatan Sinamar pada waktu-waktu lengang, apalagi tepat di saat berserah-terimanya ashar dan magrib! Bukankah begitu sejak dulu, petuah para tetua, perihal jembatan yang tak pernah lekang dan usang itu? Namun, sebagaimana titian biasa runtuh, pantangan biasa dilanggar, bukankah pula, dari masa ke masa, selalu ada gerombolan anak-anak [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on June 1, 2010
Damhuri Muhammad
http://www.sinarharapan.co.id/
(1)
Huruf-huruf bergelantungan di ranting-ranting pohon Akasia taman kota. Bergelayutan di rentang panjang kabel listrik yang bersilang pintang. Bergeloncatan di dinding-dinding gedung jangkung. Di jembatan penyeberangan, di halte pemberhentian Bus Way, gerbang tol, dan ruas-ruas jalan protokol. Para pengemudi panik alang kepalang karena kendaraan mereka terjebak dalam kerumunan huruf-huruf yang berseliweran. Bermunculan dari arah depan, [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on January 28, 2010
Damhuri Muhammad*
http://cetak.kompas.com/
Pekanbaru, Riau, 1954. Menteri Pendidikan dan Perkembangan Kebudayaan Mohammad Yamin berpidato. Tak lama selepas pidato itu, seorang lelaki naik panggung. Tanpa sungkan, ia menyanggah bahwa dalam urusan pendidikan, masyarakat Riau dianggap ”anak tiri” oleh pemerintah pusat. Buktinya, di Riau belum ada SMA negeri. Yamin tersinggung. Tergesa ia kembali ke Jakarta, tanpa sepatah kata pun. [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on January 26, 2010
Damhuri Muhammad*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/
BAGAIMANA semestinya sastrawan menyikapi keriuhan retorika politik yang belakangan ini tampak semakin mentereng? Perlukah seorang penyair menyelami realitas politik yang ingar-bingar dan penuh intrik itu -setidaknya melibatkan sebentuk kesadaran politik dalam gairah kepenyairannya atau sebaliknya-sebagaimana petuah Julian Benda (1928)- karena sudah “ditakdirkan” untuk mencari kepuasan di ranah kesenian, dan oleh karena itu, para penyair [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on December 15, 2009
Damhuri Muhammad*
http://www.jawapos.com/
BAGAIMANA cara bersembunyi dari sahabat-sahabat masa lalu? Kedatangan mereka rasanya lebih pahit ketimbang perpisahan yang hanya menyisakan kepedihan sesaat, namun lekas terlupakan begitu datang sejawat-sejawat baru. Andai kau tahu betapa kenyinyiran yang mereka bawa sebagai oleh-oleh telah membuat aku merasa semakin tidak sempurna sebagai laki-laki. Nyaris pada setiap kedatangan yang tak terduga itu, mereka [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on December 14, 2009
Damhuri Muhammad
http://www.sinarharapan.co.id/
Adalah lumrah bila agamawan bicara tentang Tuhan, karena memang di sanalah “maqam” dan perannya. Tapi, akan mencengangkan bila Achdiat K. Mihardja tampil seperti mubaligh, dan secara terang benderang menyeru agar manusia kembali pada “kesadaran kebertuhanan”. Menyibak tabir “kejahiliahan” modern bahwa rasionalisme, sekularisme, eksistensialisme dan “isme-isme tak bertuhan” lainnya telah menjerat manusia menjadi representator watak [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on November 18, 2009
Damhuri Muhammad
http://www.suarakarya-online.com/
Sudah berkali-kali Haji Usman berkilah dan berkelit untuk tidak menghadiri hajatan pernikahan di lingkungan kampungnya. Padahal, undangan terus berdatangan ke rumahnya. Maklumlah, Haji Usman, tokoh masyarakat, orang terpandang di kampung itu. Semula ia enggan mengemukakan alasan kenapa ia keberatan memenuhi undangan dari sejawat-sejawatnya itu. Namun, karena terus-menerus ditanyai, akhirnya Haji Usman buka mulut juga.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on August 18, 2009
Damhuri Muhammad**
http://www.infoanda.com/
Corak historiografi kesusastraan Indonesia modern yang masih berpijak dan bertolak dari ‘asal muasal’ dan pendekatan teleologis, memang sudah amat melelahkan dan terlalu banyak menguras tenaga dan pikiran. Sebagian pemerhati sastra mulai pesimis, kehilangan gairah, bahkan apriori.
Nirwanto Dewanto, dalam esainya (Kompas, 4/3/2000) mempertanyakan, masih perlukah sejarah sastra? Ini mencerminkan ketidakpercayaannya pada konstruk sejarah yang ditegak-berdirikan [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on June 16, 2009
Damhuri Muhammad
http://www.jawapos.com/
(1)
Centeng los daging yang ditakuti para pemalak di pasar ini di masa lalu hanya seorang tukang cukur. Meski begitu, menjadi tukang cukur, baginya, adalah sebuah kuasa yang belum tentu dimiliki oleh pembunuh bertangan dingin sekalipun. Betapa tidak? Tanpa gamang dan was-was, leluasa tangannya menekan, menekuk, dan bila perlu memelintir tempurung kepala siapa saja yang [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on May 4, 2009
Judul : Parang Tak Berulu
Penulis : Raudal Tanjung Banua
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : Pertama, Mei 2005
Tebal : 182 halaman
Peresensi: Damhuri Muhammad
http://www.ruangbaca.com/
Teks cerpen terkadang dapat diandaikan sebagai ‘khabar’ tertulis yang disampaikan oleh seorang ‘juru khabar’.
Filed under: Resensi
No Comments »