Posted by PuJa on September 6, 2010
Denny Mizhar
Malang Post, Minggu, 5 September 2010
Gadis, sudahlah. Jangan menangis. Tak ada gunanya. Lelaki yang kau cintai telah melukaimu. Apa pantas kau mengiba dan meratapinya, bahkan mengharapnya kembali? Mari, buka mata hatimu. Lalu tenggelamkan diri dengan do’a-do’a kepada Tuhan. Aku yakin. Segalanya akan baik-baik saja. Hidup itu sementara, jangan dibuat bersusah-susah. Mari, memaknai segala peristiwa [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on August 23, 2010
Denny Mizhar*
Jika menapak tilasi bangsa Indonesia, tak jua menemui perubahan. Kebobrokan para pengambil kebijakan sudah bukan hal asing disaksikan. Pada realitasnya bangsa ini belum menemukan titik perubahan segar sesudah reformasi 1998. Tapi malah memasuki babak kegelapan. Orde Baru memang telah tumbang, namun gaya prilakunya masih menghantui, bahkan semakin akut. Tampak pada realitas keseharian dapat dipandang [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on August 18, 2010
Cinta Di Bulan Juni
Bila yang pernah aku temui adalah hujan bulan juni*. Kini usai pada matahari bulan juni**. Ada kabar tentang waktu yang menua dan harus tergantikan dengan kemudaan. Melewati hari-hari sepi bulan juni. Sehabis aku meninggalkan jejak pada mei yang penuh luka dan darah dalam sejarah bangsa ini.
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on August 12, 2010
Bulan Sabit di Balik Jendela
kau yang mengancamku dari balik jendela tak juga beranjak pergi. menerangi tak sempurna setapak hatiku. mengantung-gantung di pohon trembesi tempat aku menunggu bila matahari berlahan angslup di tepi barat rumah yang aku huni.
kau menghampiriku memberi kisah tak pernah tuntas menjadi kenang purnama. hanya pancarkan cahaya merah berkilauan membuatku silau.
Filed under: Puisi
No Comments »
Posted by PuJa on August 1, 2010
Denny Mizhar
Ketika pertama kali datang di kota ini. Adalah rasa cemas yang saya rasakan. Sebab baru pertama kali. Hanya nomer telphon milik tetangga yang sudah lama tinggal di Malang sebagai bekal di mana nantinya saya singgah pertama. Di terminal sehabis turun dari bis. Saya mencari warung telphon. Akhirnya saya dapat alamat tempatnya di jalan MT. [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on July 16, 2010
Denny Mizhar
Semalaman Ia tak pulang ke rumah. Tidak biasanya menginap di luar. Biasanya pamit dan memberi tahu jika ada kepentingan di luar rumah? bila tak pulang. Anaknya juga bertanya ke mana Bapaknya tak kelihatan seharian. Sebab ketika Ia tak pulang, tidak lupa menelpon anaknya, sekedar tanya kabar dan menanyakan sudah makan atau belum. Aku semakin [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on July 12, 2010
Denny Mizhar
Sri namaku. Aku lahir ketika musim kemarau panjang. Keluargaku di himpit kesusahan. Sawah yang ditanami padi tak juga kunjung menuai panen. Kekeringan melanda desaku. Hingga semua warga desaku harus berduyun-duyun menimba air di sumur syawal ketika pagi tiba. Sumur yang selalu ada airnya walaupun musim kemarau melanda. Hanya itu satu-satunya sumur yang tak pernah [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on June 26, 2010
Sajak untuk Aku
Hai, aku. Lihatlah kunang-kunang yang kau simpan tak berkerlip lagi. Lepaskanlah pada udara bebas agar ia dapat melesat pada ketinggian langit menggapai segala asa yang ia endapkan lama.
Hai, aku. Tak usah lagi kau tulis jejak lukamu yang membuatnya tak betah tinggal denganmu walau hanya mencium bau anyir darahmu. Rebahkanlah ia jauh dari tubuhmu [...]
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Mahasiswa dan Celana Jeannya
kemarin kau kenakan celana jean warna biru yang masih baru.
hari ini kau pakai celanan jean warna hitam dan kau lupa mencopot bandrol harganya.
esok mungkin kau kenakan celana jean yang berwarna-warni
sebab kau lupa membeli buku diktad kuliah.
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on June 25, 2010
Denny Mizhar
Keheningan menghampiriku di perjamuan ruang tunggu. Aku terus berdiri dengan harap, kau datang membawa sepucuk senyum yang hilang dariku. Sebab lelah memandang masa lalu, tak juga mau pergi. Kenangan-kenangan pahit menyelinap dalam hari-hariku.
Dalam ruang tunggumu aku ibarat petani yang menanti musim panen tiba. Menunggu sambil memupuk bibit-bibit dan tunas-tunas muda yang ditanam di sawah-sawah, [...]
Filed under: Prosa
No Comments »