Posted by PuJa on February 23, 2010
Fahrudin Nasrulloh*
http://www.surabayapost.co.id/
Seperti apakah perkembangan sastra mutakhir Jawa Timur? Pertanyaan ini tidak gampang dijawab dalam satu penyoalan tapi justru dari sanalah kita bisa terus berupaya menggalinya dari berbagai perspektif. Perkembangan sastra di Indonesia boleh dikatakan sangat kuat dan menggembirakan. Munculnya berbagai jenis-bentuk dan genre sastra dalam dekade terakhir ini memperkaya khasanah sastra kita; melalui beragam perspektif [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on February 2, 2010
Fahrudin Nasrulloh*
http://www.jawapos.co.id/
”Puisi tiba-tiba jadi
kayak penyakit
harus ditulis terus-menerus”
– Afrizal Malna –
SIAPA kini yang membutuhkan puisi dan kenapa penyair terus menuliskannya? Tentu pertanyaan itu tampak klise, tapi sejarah kesusastraan Indonesia adalah kenyataan. Ia tidak lahir dari omong kosong. Bagi Afrizal Malna, puisi mungkin sudah mati. Ia mati atau dapat lebih menguar ketika terus dibenturkan dalam konteks filsafat.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on December 31, 2009
Fahrudin Nasrulloh*
http://cetak.kompas.com/
Dalam riwayat orang Jawa, bahasa dan sastra Jawa biasa dijadikan medium untuk memperkenalkan ajaran Islam, dalam ruang-ruang yang disebut pesantren. Adapun dalam sastra Islam-Kejawen, anasir sufisme dan ajaran pekertinya diserap oleh pujangga Jawa untuk mengislamkan warisan sastra Jawa zaman Hindu.
Cerita bisa bermula saat imperium Majapahit dikhatamkan dengan masuknya Islam dan berdirinya Kerajaan Demak, abad [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on November 20, 2009
Fahrudin Nasrulloh*
http://www.facebook.com/people/Fahrudin-Nasrulloh/1033640669
Gerombolan kadal merayap
Kecemplung di seteko kopi
Kebal-kebul dihembus asap
Oi oi oi, dipelantingkan puisi
Kumpulan puisi ini diterakan dengan judul Secangkir Kopi Pahit di Negri Kadal dari karya dua penyair: Saiful Bakri dan Sosiawan Leak. Kesan pertama saat membaca judul itu, saya ingin mengarung di pusaran kopi yang berlumpur-lumpur dengan racikan lumayan pahit (kadang asyik juga dengan [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on November 14, 2009
Fahrudin Nasrulloh
http://www.jawapos.co.id/
MEMASUKI ruang itu, rasa temaram hadir lalu meruang. Degup jantung masih tertahan dan gemerisik penonton satu per satu mengisi kursi yang kosong. Hening.
Pementasan monolog Shimpony Patet Pat pun dibuka Studiklub Teater Bandung (STB). Aktor Ayi Kurnia Iskandar tampil. Dia memerankan seorang aktor tua yang merasa nelangsa sendiri dalam hidup karena memilih melakoni hidup sebagai [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on October 5, 2009
Fahrudin Nasrulloh**
http://www.facebook.com/people/Jabbar-Abdullah/1020385855
Dalam sastra Jawa kepesantrenan, bahasa dan sastra Jawa dijadikan wadah untuk memperkenalkan ajaran Islam. Sedangkan dalam sastra Islam-Kejawen anasir sufisme dan ajaran pekertinya diserap oleh pujangga Jawa untuk mengislamkan warisan sastra Jawa zaman Hindu. Memang, sastra Jawa pesantren tidak sesubur sastra Islam-Kejawen. Lantaran yang berkembang di Jawa adalah paham sufisme ortodoks Al-Ghazali, sehingga daya [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on August 19, 2009
Fahrudin Nasrulloh*
http://budayajombang.multiply.com/
Uwur-uwur kodok segoro
bandeng nener disaut ulo
Sukur-sukur peno jowo
tumut ngenger sak umur kulo
(Petilan kidungan Besut dari Mbah Jomblo)
Ia bernama Mbah Jomblo. Tampaklah panorama Dusun Jombok yang permai yang dikitari persawahan yang menghijau subur. Dan di daerah itulah ia pertama kali menghirup hiruk-pikuk dunia, yang kemudian ia lebih dikenal oleh warga sekitarnya dengan sebutan Mbah Jomblo.
Filed under: Canting
No Comments »
Posted by PuJa on August 17, 2009
Fahrudin Nasrulloh**
http://www.radarmojokerto.co.id/
http://budayajombang.multiply.com/
Ludruk biyen iku ngadek-ngadek dewe
Nek pancen saiki koyok ngene
Yo wis wayahe owah jamane
(Bayan Manan)
Bayan Manan dilahirkan di Desa Ketapangkuning, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, pada tahun 1942. Ia mulai menggemari kesenian ludruk di tahun 1974. Sebutan atau embel-embel “bayan” tersemat padanya ketika ia menjabat menjadi pamong desa di Ketapangkuning pada 1971.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on
Fahrudin Nasrulloh*
http://www.jawapos.com/
Sebuah tlatah mulanya adalah sebentang nubuat, situs yang terus bergerak, dan perang yang bergolak panjang. Tragedi dan cerita manusia di dalamnya bagai layang-layang putus di angkasa. Begitulah kiranya apa yang tersirat di batin De Jonge (1828-1879), si tukang arsip kolonial yang disegani itu. Ia merupakan generasi setelah Valentijn (1666-1727), Peiter Van Dam, dan J. [...]
Filed under: Canting
No Comments »
Posted by PuJa on July 24, 2009
Fahrudin Nasrulloh
http://www.surabayapost.co.id/
Di dusun Tis di wilayah Qulaiwah, dalam kenangan Abu Zardak, adalah tilas gaib Banul Jan. Dengan hamparan gurun yang kuasa menghisap iman dan ingatan bagi orang yang nekat merambahnya. Dengan pemandangan bebukitan berbatu yang, konon, kilau putihnya, kerap memancarkan sinar berasap pilu-kalut dari airmata Adam dan Hawa. Betapa nelangsa lanskap ini bila diriwayatkan penyair [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »