Posted by PuJa on February 26, 2010
Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Memasuki era kesejagatan, kini, makin disadari betapa informasi menempati kedudukan penting. Siapa yang menguasai informasi, dia yang niscaya dapat memainkan peranannya; mempengaruhi dan sekaligus juga ‘menciptakan’ opini publik, dan menjual informasi untuk kepentingannya atau untuk kepentingan siapa saja. Sebaliknya, siapa yang ketinggalan informasi, dialah yang kelak akan tergusur dan terus-menerus menjadi objek eksploitasi [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on February 10, 2010
Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Ketika saluran komunikasi mengalami hambatan, dialog konstruktif tak lagi jalan, kritik diterima sebagai hasutan, dan kontrol sosial dianggap pemberontakan, maka sastra (di dalamnya tentu saja termasuk cerpen) sering kali dijadikan sebagai pilihan; alternatif untuk memainkan peran-peran itu. Kebolehjadian, keserbamungkinan, dan kesadaran estetik dengan dalih hendak mengusung licentia poetica kemudian menjadi alat guna menyembunyikan [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on February 3, 2010
Catatan Kecil atas Berbagai Gagasan Besar
Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
“Kunci kemajuan sebuah bangsa terletak pada pendidikan” (Fukuzawa Yukichi (1835—1901), Bapak Pendidikan Modern Jepang)
Membaca sebuah buku antologi, boleh jadi kita merasa laksana dibawa masuk ke sebuah lanskap yang penuh panorama. Dari sana, tema-tema yang beragam seperti hendak saling menyerbu dan memaksa kita (pembaca) melakukan pilihan-pilihan. Jika keberagaman tema [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on January 29, 2010
CATATAN PERJALANAN SASTRA MELAYU KEGELISAHAN CERPEN RIAU KONTEMPORER
Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Rangkaian Pertanyaan
Di manakah letak (Melayu) Riau dalam peta kesusastraan Indonesia? Ketika kita mencoba memetakan posisi Riau dalam peta sastra Indonesia, bolehlah pertanyaan itu kita hadirkan, di tengah kemunculan (atau kebangkitan) kembali gejolak dan dinamika kesusastraan di berbagai kota di Air Tanah kita. Muncul pula pertanyaan lain [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on January 22, 2010
Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Dapatkah sejarah diadili dan tokoh masa lalu yang menjadi terdakwa, pembela, dan saksinya? Itulah yang terjadi pada pementasan Sang Sapurba yang dipersembahkan Sanggar Teater Selembayung, Pekanbaru, Riau, di Panggung Seni Dewan Canselor Tun Abdul Razak, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Selangor, Jumat, 16 Juli 2004 dalam Festival Seni Teater Melayu ASEAN 2004. Festival yang [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on January 15, 2010
Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Seorang pemulung, karena tak punya uang, kebingungan mengubur jenazah anaknya. Ia menggedong jenazah itu, sementara orang lalu-lalang seperti tak terjadi apa-apa. Seorang nenek ditemukan tewas lantaran kelaparan. Dua peristiwa ini terjadi di Jakarta. Di tempat-tempat lain, ada juga berita tentang gantung diri siswa SD gara-gara ia belum bayaran uang sekolah. Ada juga berita [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on January 12, 2010
Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Cerpen Indonesia, kini, makin menunjukkan jati dirinya sebagai bagian dari kultur keindonesiaan. Ia tidak hanya datang dari berbagai wilayah yang selama beberapa dekade seolah-olah belum terpetakan, melainkan mengada lantaran di belakangnya ada kegelisahan kultural. Kegelisahan, bahkan kepedihan dan sekaligus juga kemarahan yang datang dari berbagai macam komunitas itu, memang selama ini senantiasa ditenggelamkan [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on January 1, 2010
Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Fantasi-fantasi yang bertebaran pada masa kanak-kanak, konon, secara tidak sadar akan muncul kembali pada masa dewasa dalam bentuk yang lain. Jika pada masa kanak-kanak kita dihinggapi ketakutan akan hantu, bayangan nenek sihir, manusia bertaring yang akan menculik anak-anak nakal yang suka menangis, makhluk raksasa pemangsa manusia, atau sesosok makhluk yang dicitrakan begitu menakutkan, [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on December 29, 2009
Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Semangat multikulturalisme dan pemihakan terhadap kaum marjinal, itulah kesan yang menonjol yang dapat kita tangkap ketika mencermati cerpen-cerpen Pudji Isdriani kali ini. Meski semangat pembelaan atas kaum marjinal dan usaha untuk mengangkat peran kaum perempuan sudah tampak dalam antologi cerpennya yang terdahulu (Hati Seorang Ibu, 2001; Reinkrnasi Titis, 2003; Cokelat dan Sepotong Dosa, [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on December 28, 2009
Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/
Hery Mardianto, dkk. (editor), Pagelaran: Antologi 17 Cerpen
(Bentang Intervisi Utama, Yogyakarta: 1993) xxxiv + 152 halaman.
Ada kecenderungan baru dalam perkembangan cerpen Indonessia belakangan ini: munculnya antologi cerpen karya beberapa pengarang yang terbit di luar Jakarta. Surabaya menerbitkan Cerita Pendek dari Surabaya (1991) dan Limau Walikota (1992), Riau, Teh Hangat Sumirah (1992), dan kini [...]
Filed under: Esai
No Comments »