Posted by PuJa on November 29, 2009
Mardi Luhung
http://www.jawapos.com/
1. Buku Harian
Terus terang, ada satu hal yang mengganjal dalam hidupku. Hidup yang sudah berumur 50 tahun ini. Yaitu aku tak sempat membahagiakan ibu. Ibu yang sudah meninggal. Dan hal yang mengganjal itu telah aku tulis di buku harianku. Buku harian tebal. Bergambar wanita muda yang berleha-leha di sebuah dermaga. Dengan latar jangkar mengangkang. [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on November 13, 2009
http://www.jawapos.com/
KUNJUNGAN HIU
Sudah sebulan ini (hampir tiap malam) hiu selalu berkunjung ke rumahku. Hiu bongsor dengan kulit yang ditakik bekas luka. Atau bekas jamur yang gatal. Dan seperti biasanya (saat berkunjung itu) hiu menyodok-nyodokkan moncongnya ke pintu depan. Dan jika bosan pun memutar ke bagian belakang. Terus menempelkan penampang-rona-matanya ke jendela dapur. Seperti ingin mengintip diriku. [...]
Filed under: Puisi
No Comments »
Posted by PuJa on July 27, 2009
Mardi Luhung
http://koran.kompas.com/
Perkenalkan. Namaku Tukang Cuci. Pekerjaanku tukang cuci. Hidupku tukang cuci. Dan sebagai tukang cuci, aku mencuci semua yang perlu untuk dicuci. Biar bersih. Biar cling. Tak ada daki. Tak ada kotoran. Dan tak membuat bagi yang memakainya menjadi malu. Lalu membenamkan mukanya ke dalam bak kamar mandi. Mencoba mengusir rasa malunya itu.
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on May 31, 2009
Mardi Luhung
http://www.jawapos.com/
http://kendaripos.co.id/
Adam, berapa tahun kita terusir? Apa 100, apa 1000, apa 2000 tahun? Kita lupa bukan? Tak apa. Yang pasti, perut kita telah menggelambir. Rambut merontok. Dan sebagian gigi menghitam. Menghitam seperti hati kita yang begitu lama dipanggang oleh matahari yang merendah. Matahari yang menghanguskan ingatan yang berlompatan.
Berlompatan seperti tupai yang nakal. Nakal dari satu [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on April 9, 2009
http://cetak.kompas.com/
Kamar Penganten
Sebelum aku meminum minuman itu, cangkirnya bergetar. Dan apa yang diwadahinya juga bergetar. Seperti ingin memisahkan campuran serbuk tuba dari manis gula. Tapi, mukaku yang terkacakan di dalamnya, mengapa selalu seperti muka mayat. Muka mayat yang pucat. Muka mayat yang melengos, saat liang lahat dibukakan bagi dirinya. Liang lahat dengan dinding sedingin bentangan mori. [...]
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on February 8, 2009
http://kompas-cetak/
Pendalungan
Di genting aku tertidur dan bersiap menantimu.
Tertidur seperti mayat yang matanya terbuka.
Terpulas warna samar sampai gelap pekat.
Di udara yang tipis, benang itu terentang.
Lurus dan lenyap di ketinggian. Lewat benang itulah
kau akan tiba padaku. Mungkin memelukku.
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on February 1, 2009
http://cetak.kompas.com/
Habsiyah
Kau adalah bidadari yang ditiup dari bahan tersisa. Karenanya tak begitu istimewa. Dan terpaksa diletakkan di gerbang pasar daripada di taman sorga. Di gerbang pasar tugasmu meluruskan langkah para ibu. Langkah yang bingung ketika mesti memutar uang belanja yang kerap minus. Yang hanya cukup untuk menipu kenyang. Dan sedikit membeli racun serangga. Serta secarik nota [...]
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on January 9, 2009
http://cetak.kompas.com/
Seperti Adam yang Bersepeda
Seperti Adam yang bersepeda, aku juga bersepeda di pantai. Sepeda besar, ban besar dengan tuter yang berat dan gembung. Yang jika dipukul bergaung dan menembusi setiap yang telah dan akan dilalui. Membukai arah-arah yang baru. Seperti sepeda Adam, sepedaku juga berwarna ungu. Dan setiap terkayuh, jejak bannya menggoresi pasir. Membentuk selang-seling yang [...]
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on November 27, 2008
http://www.korantempo.com/
Hantu Paus
Aku percaya pada hantu paus. Hantu dari paus yang dulu terdampar di pantai sana. Tubuhnya menampak dan menghilang. Mengambang dan melayang di gang-gang. Dan matanya yang kecil terlihat garang sekaligus lembut: “Seperti sedang mencari jalan pulang.”
Pulang ke mana hantu paus? Sirip dan ekornya tak menjawab. Dan gang-gang yang sempit pun terus dilalui. Dan tubuhnya [...]
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on November 25, 2008
http://www.korantempo.com/
Yang Mendayung
Aku terlalu tua untuk mengejar ke mana arah impianmu kau dayung. Balapan ini harus diakhiri. Panji di pulau-pulau biarlah untukmu. Dan untukku selingkar cambuk yang akan aku cambukkan ke tubuh sendiri. Tubuh yang begitu luka karena terlalu percaya, jika dirimu selalu dekat dengan darah dan nganga.
Filed under: Sajak
No Comments »