Posted by PuJa on May 23, 2010
http://www.jawapos.co.id/
Berguru pada Hujan
tidakkah kau tahu, betapa rintik itu ‘lah menikam dadaku
sebentuk jarum yang runcing, dingin
menggigilkan segala dedahan, dedaun, rimbun tubuhku
hingga segala seakan hancur
dan tak terkenali kembali, lebur
tapi aku masih ingin menyapamu dengan sederhana
seperti dahi pada lantai, seperti matahari pada bumi
seperti telapak kaki pada tanah basah…
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on May 3, 2010
http://www.lampungpost.com/
Estri Mustakaweni
seperti musim, angin selalu berkutat antara pantat
dan khianat
lalu cuaca berkejaran di reranting, seperti kutilang
mengekalkan gigil dalam kicauan
lalu menepikan segala dusta
dengan kaca
menjelma montase luka
di gereja
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on April 4, 2010
Mashuri
http://mashurii.blogspot.com/
Peristiwa yang menyerupai Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir yang diselenggarakan Yayasan Arena di Aula Universitas Parahyangan Bandung pada 8 September 1974 kembali terjadi. Kali ini, terjadi di Ruang Sawunggaling, Taman Budaya Jawa Timur pada tanggal 30 Agustus 2002, yang dilakukan oleh sejumlah sastrawan Jawa. Tetapi, terdapat perbedaaan mendasar di antara kedua pengadilan itu.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on April 3, 2010
http://mashurii.blogspot.com/
Kidung Tanjung
Berjalan di utara, bukan hanya laut yang bergelora
Duri juga tumbuh bersama kaktus, mimpi pun
terbungkus nyeri ritus, nafas laut mendengus,
juga sekujurku yang diringkas panas, diringkus arus…
Cakrawala pun hangus,
ketika gelombang menerjang, angin berhumbalang
Bahkan rapal-mantram menjadi rangsum
ketika nelayan turun —menjemput laut
dengan senyum dan kalut;
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on April 1, 2010
Mashuri
http://mashurii.blogspot.com/
Matali bunuh diri! Peristiwa itu langsung menggemparkan kampung Gombalmukiyo. Kampung ini termasuk kampung kecil yang terletak di pinggiran kota, dikelilingi parit kecil, dipenuhi tanaman hijau nan perdu; kampung yang oleh media massa disebut sebagai kampung tempat orang menghilangkan penat karena udara masih murni dan suasananya bisa membuat orang bahagia.
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on March 29, 2010
Mashuri
http://mashurii.blogspot.com/
Setiap menerbangkan layang-layang, aku ingin menjadi layang-layang. Tubuhku bisa mengambang, terbang bebas di udara, lalu memandang ke hamparan laut lepas, dengan pantai-pantai yang terjal. Bisa memandang luas pedusunan dan bukit-bukit kapur. Aku ingin terbang, seperti burung-burung.
Mungkin sejak aku di rahim ibu, aku sudah ditakdirkan untuk memiliki keinginan itu. Ibuku sendiri pernah berkisah, bahwa ketika ia [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on June 7, 2009
Mashuri*
http://mashurii.blogspot.com/
“Tapi aku tidak bisa menulis puisi kalau engkau menjamu tuhan dengan membunuh yang lain”
Afrizal Malna, dalam puisi Taman Bahasa
Puisi jelas berbeda dengan iman, tapi kadang juga bertemu dalam sebuah perjumpaan mesra. Tapi jangan andaikan pertemuan itu seperti sendok dan garpu di sebuah piring di meja makan, karena pertemuan itu kadang bisa berupa ngengat dan kertas, [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on March 26, 2009
Mashuri
http://mashurii.blogspot.com/
Sejarawan Perancis Dennys Lombard melihat Jawa Timur merupakan sub kultur dengan berbagai jenis entitas lokal yang beragam dan variatif. Peta kulturnya menyiratkan ada beberapa sub kultur, yang masing-masing memiliki historisitas yang panjang. Hanya saja, beberapa ada asumsi, kekinian kultur Jawa Timur sebagian besar didominasi oleh kultur santri. Namun, seiring perubahan sosial, budaya dan dinamika dunia, [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on March 6, 2009
http://mashurii.blogspot.com/
Menanam Darah
di penghujung millenia
aku baca seraut wajah penuh nestapa
menenun waktu; tampak burung gagak, anak-anak retak
dan segala senapang
menghunus jantung dan harapan
siap mencipta merih nan panjang
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on March 5, 2009
http://mashurii.blogspot.com/
Musa 1
di penghujung desember, kita tak hanya mencatat jejak luka
kelahiran di sebuah jazirah: —di mana gembala memungut tanda
dari rasi ajaib di angkasa, bukan fatamorgana di gelap cakrawala,
dan doma-domba berlomba memasu oase cahya; —ketika jabang
terlontar dari rahim, yatim, tapi membangkitkan sejuta harapan
perihal penyucian dan penebusan dosa darah…
Filed under: Sajak
No Comments »