Posted by PuJa on July 27, 2010
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
[UNTUK PUTRI BENGAWAN SOLO]
Rupanya terjerat benang halus kasat mata
menaiki ketinggian ombak ke mana perginya
:
bersamamu tujuan musim perasaan muda.
Jari-jemari tangan bergelayut ke mega-mega,
hujan menyirami mimpi-mimpi hampir musnah.
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on July 25, 2010
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=480
Aku tak pernah mengukur suhu tubuhku dengan alat ukur. Namun dapatlah terasa, sebab telah akrab membawaku kemana pun pergi. Hampir beberapa hari ini aku tidak menulis, hanya perbaiki tulisan lama yang belum tegak berkaki-kaki kefitrohan sebagai hasil cipta.
Betapa kejiwaan tiada lepas kondisi badan, pun tidak bisa diabaikan jalinan pencernaan, yang membentuk karakter menentukan tapak-tapak [...]
Filed under: Cangel
No Comments »
Posted by PuJa on July 10, 2010
Nurel Javissyarqi
Bermula dari sms kawan Fahrudin: “Rel, Geladak Sastra #3 diskusi dg tema GAIRAH MENULIS MENEMBUS KORAN. Kamu jd pembicara ya? Nanti sama Bandung Mawardi dr Solo.” Lalu aku telpon: “Den, tema itu kan tidak cocok denganku?” Dijawablah: “Makanya dibenturkan.” Lantas aku timpali: “Ok kalau begitu.” Tak berselang lama sms lagi: “Gaweo tulisan Rel, temane [...]
Filed under: Canting
No Comments »
Posted by PuJa on July 7, 2010
(Bunga jati namanya apa? Apa)
Nurel Javissyarqi
Kaca benggala menyerupai udara padat sebening kaca tebal lawas, memantulkan sifat nun sanggup ditembusi cahaya. Para terpelajar berkata; ilmu filsafat melalui garba bertanya. Kini aku tampilkan sekuntum bunga pertanyaan adalah kembang pohon jati. Siapa bertanya akan balik tanya kepada penanya. Inikah masa-masa tepat mempertanyakan jati diri?
Jika dipurbakan bolehlah dinamai pohon [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on July 6, 2010
Nurel Javissyarqi
Kala lesatan ruang-waktu bagai jepretan kamera atau film-film pendek banyak editing, sempoyongan memasuki lorong sakral terlampau purba. Teks usang tak mau dijamah kejelian kekinian, kehendaknya ke tubuh-tubuh lama mengerami kenangan.
Di mana tertolak karya sendiri, tak jua menyusup meski melewati kekhusyukan. Keluar-masuk tidak memberi apa-apa. Namun pada tempat sepantasnya, kesembuhan menyampaikan salam berseri-serasi seolah tiada [...]
Filed under: Esai
2 Comments »
Posted by PuJa on June 30, 2010
Nurel Javissyarqi
Sekadar embel-embel: “Karena satu-satunya budaya yang benar ialah budaya revolusi; yakni, ia selalu dalam proses menjadi” (Jean Paul Sartre dalam pengantar bukunya Frantz Fanon, The Wretched of the Earth).
***
Realisme, surealisme, abstrak dan sebagainya. Aku pandang hanyalah sudut pemaknaan dari kurun jaman. Suatu karya dimasa tertentu bisa dianggap surealis, diwaktu berbeda memasuki realisme magis, lantas [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on June 29, 2010
Nurel Javissyarqi
“Yang paling berbahaya pembunuhan karakter dengan mengkultuskan seseorang daripada bunuh diri secara massal.”
Sudah banyak pembantaian berserakan di muka bumi atas ulah-pakolah mengkultuskan seseorang pun gagasan. Ialah tidak terpungkiri, kehidupan digerakkan beberapa gelintir pandangan-ide. Berlangsung hingga kursi-kursi kekuasaannya dirasa aman.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on June 10, 2010
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=476
WAKTU
Ludwig Tieck
Dia ngembara dalam lingkaran abadi dan sama,
Sang waktu, menurut caranya yang lama,
Atas perjalanannya, tuli dan buta;
Anak manusia yang tak malu-malu
Mengharap dari saat yang datang senantiasa
Filed under: Cangel
No Comments »
Posted by PuJa on May 30, 2010
Nurel Javissyarqi
BAMBU JEPANG
Tahun lalu di halaman kutanam bambu serumpun
Sekarang tumbuh dalam hatiku daunnya merimbun
***
I
Pohon bambu depan rumah mengusik hatiku setiap waktu. Ketika malam tiba, dedaunannya berbisik ke telinga.
Filed under: Cangel
No Comments »
Posted by PuJa on May 24, 2010
Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=464
Ruh puisi sebelum dituangkan penyairnya, masih mengawang di langit-langit bathin penciptaan. Betapa menggumuli cahaya rasa itu amat payah. Laksana air direbus di atas tungku dengan nyala api keabadian.
Mematangkan zat-zat pengalaman hingga tiada bakteri tersisa. Dari sana hadir kejelasan awal, tersugesti jiwanya sendiri demi memuntahkan gejolak terkandung lama. Sekelahiran musti, sesudah rindu tak tahan terbebani.
Filed under: Cangel
No Comments »