Posted by PuJa on March 10, 2010
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
Ami heboh membongkar-bongkar almari. Dia mencari baju yang berwarna pink. Setidak-tidaknya yang bernuansa pink. Ada pesta Valentine di kampus. Warna itu menjadi tiket masuk. Warna lain akan ditolak. Kecuali mau beli kaus oblong dari panitia yang berwarna pink. Tapi harganya selangit.
“Buat apa beli kaus oblong 200 ribu, kan pakainya juga hanya sekali,”kata Ami terus [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on January 12, 2010
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
“Ini bukan hanya masalah tari pendet. Bukan hanya masalah orang Bali. Ini harga diri kita sebagai bangsa. Kita tersinggung! Pulau direbut, hutan dicuri, TKI disiksa bahkan ada yang mati. Warisan budaya, tarian, bahkan masakan diklaim sebagai milik mereka. Ini sudah melanggar hukum. Satu kali oke, kedua kali masih oke, tapi kalau sudah berkali-kali namanya [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on January 5, 2010
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
Giliran Amat menangis di depan televisi. Ia meratapi korban terorisme yang sudah meledakkan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Hotel, di Jakarta. Pagi 17 Juli yang tenang dan indah sejak berlangsungnya Pemilu 09 yang damai dan mendapat banyak pujian dari mancanegara, kontan buyar.
Pasar modal tertegun walau pun tak sampai guncang. Presiden SBY [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on January 3, 2010
Putu Wijaya*
http://www.jawapos.com/
Tak terasa 2010 datang. Semua orang bertanya, apa yang akan terjadi?
”Kalau boleh memilih, lebih baik para koruptor, manipulator tertidur pulas semuanya. Negara kita akan aman. Ketimbang banyaknya para dermawan yang rajin menyumbang bencana alam ataupun kemiskinan, yang akhirnya jadi dagelan, karena semua jatuhnya bukan ke tangan korban yang sebenarnya!” kata seorang tetangga.
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on January 1, 2010
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
“Kebudayaan Jawa adalah kebudayan kasur tua!” kata Rendra dengan tandas dalam sebuah diskusi di Yoga pada akhir tahun 60-an, kata seorang budayawan yang diwawancari di televisi itu.
“Banyak orang tersinggung dan kaget. Itu bukan saja terlalu berani tetapi juga kurangajar. Kebudayaan Jawa yang tinggi, berciri kontemplasi dan melahirkan monumen yang mencengangkan dunia seperti Borobudur, Prambananan, [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on November 17, 2009
Budayawan yang mantan wartawan ini bercerita tentang dunia teater dan kesenian lainnya yang kian tergusur kapitalisme.
Pewawancara: Adiyanto, Kristian Ginting
http://www.koran-jakarta.com/
Kematian WS Rendra, menurut Putu Wijaya, jangan sampai mematikan perkembangan dunia teater di Indonesia. Kendati demikian, pimpinan Teater Mandiri ini juga berharap tidak muncul “Rendra-Rendra” baru. ‘Biarlah dia pergi dengan kebesarannya. Dia tidak akan pernah tergantikan.” Yang [...]
Filed under: Canting
No Comments »
Posted by PuJa on October 28, 2009
Putu Wijaya*
http://www.jawapos.com/
Di jalanan yang sudah bertahun-tahun saya lalui, ada rumah orang kaya. Depan rumahnya ada sebatang pohon kelapa gading. Buahnya terus berlimpahan seperti mau tumpah. Kalau lewat di situ, saya selalu kagum. Tapi juga tak habis pikir. Mengapa kelapa itu tak pernah dijamah. Mungkin pemiliknya terlalu kaya sehingga sudah tidak doyan lagi minum air kelapa. [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on September 15, 2009
Putu Wijaya
http://www.facebook.com/pages/Putu-Wijaya/43262432803
RENDRA
Pulang dari tahlilan 7 hari meninggalnya WS Rendra di Bengkel Teater, Citayam, pintu rumah saya terkunci. Saya terpaksa mengambil jalan samping. Di teras yang menghadap ke kebun saya tertegun. Pada salah satu kursi duduk sosok yang membuat darah saya tersirap.
“Mas?”
Tak ada jawaban. Saya mencoba menenangkan perasaan. Malam sedang di puncaknya. Tapi ada dering jengkrik [...]
Filed under: Canting, Edisi Khusus
No Comments »
Posted by PuJa on June 25, 2009
Putu Wijaya
http://www.jawapos.co.id/
Saya sedang sarapan pagi di sebuh hotel di Pulau Bintan, ketika seorang lelaki tampan dan kekar menghampiri. Ia tersenyum sehingga saya tidak sanggup berbuat apa-apa, ketika dia menarik kursi dan menanyakan apa dia boleh bergabung.
”Bapak tidak kenal saya, tapi siapa yang tidak kenal Bapak,” katanya sambil menyodorkan sebuah kartu nama yang sangat meyakinkan.
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on May 7, 2009
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
Sudah lama dunia ini dibedakan dengan Barat dan Timur. Masa lalu masa depan. Sudah lama nilai-nilai dipatok dalam dua gawang. Buruk dan baik. Hitam dan putih. Sudah lama arah disederhanakan menjadi kanan dan kiri. Depan dan belakang. Atas dan bawah.
Sudah lama wanita dikategorikan dengan jegeg dan bocok. Dan pada gilirannya juga sudah lama seni [...]
Filed under: Esai
No Comments »