Posted by PuJa on June 28, 2010
Putu Wijaya
http://www.jawapos.co.id/
(buat sahabatku Iskan)
MEMANDANGI koran, melahap foto doktor termuda Indonesia I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi WS, 27 tahun, mataku tidak berkedip.”Cantik, badannya bagus, senyumnya mempesona,” gumanku memuji. ”Kalauaku masih muda, aku akan datang kepadamu dan langsung melamar.”
Ami yang sejak tadi di belakangku nyeletuk, ”Begitu ya? Bagaimana kalau ditolak?”Aku mengangguk.
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on March 10, 2010
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
Ami heboh membongkar-bongkar almari. Dia mencari baju yang berwarna pink. Setidak-tidaknya yang bernuansa pink. Ada pesta Valentine di kampus. Warna itu menjadi tiket masuk. Warna lain akan ditolak. Kecuali mau beli kaus oblong dari panitia yang berwarna pink. Tapi harganya selangit.
“Buat apa beli kaus oblong 200 ribu, kan pakainya juga hanya sekali,”kata Ami terus [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on January 12, 2010
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
“Ini bukan hanya masalah tari pendet. Bukan hanya masalah orang Bali. Ini harga diri kita sebagai bangsa. Kita tersinggung! Pulau direbut, hutan dicuri, TKI disiksa bahkan ada yang mati. Warisan budaya, tarian, bahkan masakan diklaim sebagai milik mereka. Ini sudah melanggar hukum. Satu kali oke, kedua kali masih oke, tapi kalau sudah berkali-kali namanya [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on January 5, 2010
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
Giliran Amat menangis di depan televisi. Ia meratapi korban terorisme yang sudah meledakkan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Hotel, di Jakarta. Pagi 17 Juli yang tenang dan indah sejak berlangsungnya Pemilu 09 yang damai dan mendapat banyak pujian dari mancanegara, kontan buyar.
Pasar modal tertegun walau pun tak sampai guncang. Presiden SBY [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on January 3, 2010
Putu Wijaya*
http://www.jawapos.com/
Tak terasa 2010 datang. Semua orang bertanya, apa yang akan terjadi?
”Kalau boleh memilih, lebih baik para koruptor, manipulator tertidur pulas semuanya. Negara kita akan aman. Ketimbang banyaknya para dermawan yang rajin menyumbang bencana alam ataupun kemiskinan, yang akhirnya jadi dagelan, karena semua jatuhnya bukan ke tangan korban yang sebenarnya!” kata seorang tetangga.
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on January 1, 2010
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
“Kebudayaan Jawa adalah kebudayan kasur tua!” kata Rendra dengan tandas dalam sebuah diskusi di Yoga pada akhir tahun 60-an, kata seorang budayawan yang diwawancari di televisi itu.
“Banyak orang tersinggung dan kaget. Itu bukan saja terlalu berani tetapi juga kurangajar. Kebudayaan Jawa yang tinggi, berciri kontemplasi dan melahirkan monumen yang mencengangkan dunia seperti Borobudur, Prambananan, [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on December 28, 2009
Hikmat Gumelar
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/
Dari belakang panggung, dari balik layar putih yang sepa-ruhnya memerah oleh semburan cahaya lampu, muncul seorang lelaki memakai sarung hitam, kemeja hitam, kopiah hitam, dan syal abu melilit leher. Untuk ukuran umum lelaki Indonesia, lelaki itu tinggi dan besar. Akan tetapi, saat berjalan membentuk sepatu kuda, langkahnya tampak berat. Badannya tampak rapuh, dan saat [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on November 17, 2009
Budayawan yang mantan wartawan ini bercerita tentang dunia teater dan kesenian lainnya yang kian tergusur kapitalisme.
Pewawancara: Adiyanto, Kristian Ginting
http://www.koran-jakarta.com/
Kematian WS Rendra, menurut Putu Wijaya, jangan sampai mematikan perkembangan dunia teater di Indonesia. Kendati demikian, pimpinan Teater Mandiri ini juga berharap tidak muncul “Rendra-Rendra” baru. ‘Biarlah dia pergi dengan kebesarannya. Dia tidak akan pernah tergantikan.” Yang [...]
Filed under: Canting
No Comments »
Posted by PuJa on October 28, 2009
Putu Wijaya*
http://www.jawapos.com/
Di jalanan yang sudah bertahun-tahun saya lalui, ada rumah orang kaya. Depan rumahnya ada sebatang pohon kelapa gading. Buahnya terus berlimpahan seperti mau tumpah. Kalau lewat di situ, saya selalu kagum. Tapi juga tak habis pikir. Mengapa kelapa itu tak pernah dijamah. Mungkin pemiliknya terlalu kaya sehingga sudah tidak doyan lagi minum air kelapa. [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on September 15, 2009
Putu Wijaya
http://www.facebook.com/pages/Putu-Wijaya/43262432803
RENDRA
Pulang dari tahlilan 7 hari meninggalnya WS Rendra di Bengkel Teater, Citayam, pintu rumah saya terkunci. Saya terpaksa mengambil jalan samping. Di teras yang menghadap ke kebun saya tertegun. Pada salah satu kursi duduk sosok yang membuat darah saya tersirap.
“Mas?”
Tak ada jawaban. Saya mencoba menenangkan perasaan. Malam sedang di puncaknya. Tapi ada dering jengkrik [...]
Filed under: Canting, Edisi Khusus
No Comments »