Posted by PuJa on March 9, 2010
Raudal Tanjung Banua*
http://www.jawapos.com/
KARYA seni adalah persimpangan jalan, tulis Milan Kundera1, saat ia kubaca dalam perjalanan. Bahuku terguncang karena batu dan lubang jalanan, tapi kuteruskan membaca, menyusuri sebuah pikiran. Jumlah jalan yang bertemu, lanjut Kundera, akan menentukan mutu seninya. Aku berpikir, jika kota dapat dikatakan sebagai karya seni, jalanan seperti apakah gerangan yang akan menentukan mutu [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on January 7, 2010
http://cetak.kompas.com/
Quan Am Tu
Di pintu Quan Am Tu Pulau Galang
Tua dan sepi tidak menenggang
Serombongan peziarah bersideku.
Seorang tua gemetar
dan berkisah kepadaku.
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on December 23, 2009
Raudal Tanjung Banua
http://jurnalnasional.com/
Selesai mengikuti Kongres Cerpen V di Banjarmasin beberapa waktu lalu, saya menyempal ke tepian Sungai Martapura dan mencoba merunut-runut lagi “Pengantar Redaksi” yang saya tulis di Jurnal Cerpen edisi 8. Apakah yang saya tulis tentang fenomena cerpen “gumam” tidak berlebihan, atau memang semacam potret kecil yang tak terhindarkan?
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on December 14, 2009
Raudal Tanjung Banua
http://www.sinarharapan.co.id/
Posisi naskah drama dalam khazanah teater tanah air sebenarnya relatif unik, seunik keberadaan jagad teater itu sendiri. Kita misalnya, mengenal teater modern dan teater tradisional, yang relatif tidak popular dalam khazanah teater Barat. Salah satu unsur pembeda yang utama terletak pada ada atau tidaknya naskah yang dimainkan. Jamak diketahui bahwa teater tradisional menjumpai [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on September 19, 2009
Raudal Tanjung Banua
http://www.lampungpost.com/
Di manakah posisi buku sastra ketika publik dan toko buku lebih bergairah menerima buku-buku “praktis” dan “instan”? Mengapa buku sastra “serius” kurang direspons publik dan distributor? Mengapa keberadaannya tersisih di rak tersembunyi toko buku, bahkan di laci-laci terkunci dan gudang belakang perpustakaan?—lead—
MUNGKIN tidak ada yang menolak jika dikatakan bahwa dunia perbukuan sekarang sedang [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on March 30, 2009
Raudal Tanjung Banua
http://www.sinarharapan.co.id/
Cerpen sedang mengalami ”perayaan”. Dalam ranah penciptaan misalnya, kita mendapatkan barisan kreator yang sedang bergairah mengusung berbagai tema dan estetika. Dunia penerbitan pun tak kalah bergairah menyambutnya. Publikasi yang luas, ikut merebut perhatian dan atensi publik, sehingga jadilah cerpen sebagai genre yang sedang dirayakan bersama.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on March 22, 2009
Raudal Tanjung Banua
http://www.jawapos.com/
SIANG itu, di masa laluku yang seliar ikan-ikan, aku sedang memandang gugusan awan yang bergelantungan di langit, dan tiba-tiba aku merasakannya serupa kawanan ikan yang berenangan hingga ke batas cakrawala. Makin lama makin banyak, berarak seperti digiring tangan gaib penguasa lautan; yang kecil-kecil liar, yang besar-besar bergerak lamban, dan semuanya berkumpul di timur [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on March 17, 2009
Raudal Tanjung Banua*
http://www.lampungpost.com/
Diangkatnya novel laris ke layar lebar bukan fenomena baru. Dua dasawarsa lalu, novel-novel klasik sastra diangkat ke layar kaca:Siti Nurbaya (Marah Rusli) dan Sengsara Membawa Nikmat (Dt. Majoindo?). –lit
Pengangkatan karya sastra sedikit-banyak masih memperlihatkan hubungan “alamiah” film-sastra, setidaknya dari pilihan karya yang diangkat. Memang, aroma industri mulai tercium sejak dini. Hubungan pertama yang [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on March 8, 2009
Raudal Tanjung Banua
http://www.kr.co.id/
APA pun kata orang, keputusan Sombiang sudah bulat, tak bisa diganggu-gugat: mengajak istrinya, Lanik, tinggal di ladang. Sebuah pondok kayu bertiang tinggi beratap rumbia-ditisik batang rengsam-kukuh dengan batang kayu pelawan, selesai sudah dibuat. Ada hamparan sahang seluas mata memandang. Sementara pohon-pohon karet tua di lahan arah ke lembah-warisan orangtuanya-sengaja ditebang, sebagai gantinya, kini [...]
Filed under: Cerpen
No Comments »
Posted by PuJa on February 21, 2009
http://www.lampungpost.com/
Keheningan Pelabuhan
–bagi BMC dkk.
Ini pelabuhan atau petilasan
Laut selatan? Tak ada orang bercakap
mabuk dan tertawa. Kapal-kapal ikan
mabuk asin sendiri di kuala dan ceruk teluk diam
tak berombak. Camar-camar terbang nyaris tak tertangkap
mata telanjang.
Filed under: Sajak
No Comments »