Posted by PuJa on July 30, 2010
http://www.lampungpost.com/
Prosa-Prosa yang Hendak Dilupakan
Kita memang pernah berjumpa di kapal itu, kapal yang sampai sekarang tak kita ingat namanya. Memang ada yang kucatat, tapi itu cuma jadwal berangkat dan pluit larat yang kita lupakan setelah beberapa saat.
Di palka, bulan tak terlihat. Hanya gelap mengambang. Gelap yang seperti lubang maha besar darimana kita sempat melihat getar bintang; [...]
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/
Gadis Laut
dirimu ialah gadis laut
yang merendamku dalam biru
hingga aku harus berpaut
di labuh pantaimu
aku hendak menelusuri tubuh
nan agung serupa genderang tabuh
nyanyian tak karam dan lena
namun abadi di samudra semesta
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/
Hujan dan Lelaki
hujan adalah lelaki
dengan panah dinginnya ia mencari
tempat hangat di hatiku
mengambil selimut tubuhku
dan memeluk semalaman
ia akan selalu kembali padaku
mengantarkan angin dingin
lalu menyiramiku
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/
Mimpi
dia tak ada malam ini
tak datang menemaniku yang sepi
mungkin sudah lelap dengan beribu mimpi
apakah aku tetap menunggu
bermain dengan waktu
-dan risau?-
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/
Arok, Dedes, dan Lelaki Peragu
/1/
arok,
siapa kuasa
melawan takdir?
janin di rahimku
benih tunggul ametung.
arok,
seperti engkau
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/
Masalah Masa Lalu: Catatan dari Masa Depan Ayahku
: kepada Safinah, ibuku
lantai tidur kedinginan. kau lihat itu dari mata
seekor burung yang termenung di ranting
yang tangannya memegang terali jendela
maka kau hamparkan selimutmu ke tubuh
lantai. kau tidak ingin burung itu murung
dan mati. kau merindukan sayapnya
masih mengepak-ngepak besok pagi
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/
Di Taman Kota
di sebuah sore yang tembaga
seekor merpati mematuki remah roti di taman kota
dan angin musim dingin tiba-tiba bangkit
mengusap rambutku yang seperti nyiur di bukit
Tanjungkarang, 7 Desember 2009
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/
Lukisan Kenangan
jejak yang kaulukis di sepanjang jalan itu
perlahan-lahan terbang
tinggalkan sebentuk kenangan
yang tersusun dari beribu kata puitis
serupa puisi yang kautulis, penyair
kini aku kembali mengeja
setiap kata yang lahir
meski semuanya harus berakhir
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/
Biar Rindu ini tak Terasa Pilu
: Y. Wibowo
kawan, kemarin aku membaca sajak (atau celoteh?) yang kau tulis
sungguh, aku rindu.
bukan pada tayangan televisi yang kau tonton,
tapi pada sejarahmu
yang menorehkan emas di atas permadani
di mana mereka pesta dan menari-nari*
Filed under: Sajak
No Comments »
Posted by PuJa on
http://www.lampungpost.com/
Hujan dan Matamu
Hanya hujan, dinda
yang kelak bisa mengingatkanku pada matamu
sebab hujan yang berderai di halaman rumah senja itu
adalah hujan dari matamu
Natar, 26 Februari 2010
Filed under: Sajak
No Comments »