Posted by PuJa on December 23, 2009
Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/
Perjalanan hidup Danarto kaya dengan pengalaman di dalam dan di luar negeri. Selain sebagai sastrawan, ia dikenal juga sebagai pelukis, yang memang ditekuni sejak masa muda. Sebagai pelukis ia pernah mengadakan pameran di beberapa kota. Sebagai sastrawan ia juga pernah mengikuti program penulisan di luar negeri di antaranya di Kyoto, Jepang.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on March 8, 2009
Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/
Di tengah minimnya apresiasi terhadap dunia sastra, muncullah karya-karya sastra yang diciptakan oleh sastrawan-sastrawan yang eksis melalui dunia maya. Perspektif mereka sebagai sastrawan dihadirkan pada ruang-ruang situs dengan segala kemungkinan dan keberagaman yang mereka miliki.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on March 2, 2009
Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/
Lembaga pendidikan formal yang seharusnya memayungi kegiatan pembelajaran sastra di Indonesia nampaknya mengalami stagnansi. Sunu Wasono, Kepala Lektor Fakultas Pengetahuan Ilmu Budaya Universitas Indonesia menguraikan sastra di tingkat sekolah menengah dihimpit oleh sejumlah mata pelajaran yang tidak dapat dikatakan sedikit.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on January 31, 2009
Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/
Bendera demokrasi yang telah berkibar sejak tahun 1998 hingga kini belum mampu menggaungkan sastra di telinga masyarakat yang makin terjebak dalam deru arus modern. Namun dunia sastra yang masih minim perhatian dan kurang diperhitungkan, dewasa ini makin menggeliat di sejumlah kolom-kolom koran daerah maupun nasional.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on January 27, 2009
Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/
Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China, kiranya benar pepatah itu adanya. Karena dari negeri panda tersebut, banyak ilmu pengetahuan yang bisa diserap. Misalnya saja pepatah yang sarat akan arti dan makna. Belum lagi nilai sastra yang dibuat oleh para pujangga terdahulu.
Karya-karya sastra Indonesia-Tionghoa dianggap oleh salah satu kritikus sastra, Maman S Mahayana sebagai perintis [...]
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on January 12, 2009
Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/
Sastra Indonesia bagai dihantui oleh sejarah sastranya. Pernyataan itulah yang dilontarkan Nirwan Dewanto yang mengakibatkan kesusastraan Indonesia terus bertempur di medan peperangan sendirian dan berpangkal pada ketinggalan dari pergaulan dunia sastra luar.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on January 4, 2009
Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/
Meski terbilang muda karena lahir pada era tahun 90-an yang telah didahului oleh para seniornya, seperti Sae, Tetas, Koma dan lainnya, namun Teater Garasi mampu menyejajarkan diri ditengah komunitas teater sebagai sebuah teater yang kreatif dengan memposisikan diri sebagai laboratorium kesenian.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on December 21, 2008
Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/
Jakarta sebagai ibu kota dengan segala hingar bingar kehidupannya, berlangsung serba cepat dan praktis dalam segala hal. Hingga akhir tahun 1990-an, era internet mulai menyambangi dan menyekat kesusastraan yang ada pada media koran ataupun majalah. Adanya internet, dianggap oleh Jonathan Rahardjo, penulis novel Lanang, justru mempersempit kesenjangan antara sastra daerah dengan sastra di Jakarta.
Filed under: Esai
No Comments »
Posted by PuJa on December 17, 2008
Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/
Representasi wanita pada film Indonesia cenderung berbeda-beda dalam tiap dekade. Meski beragam, kecenderungan wanita selalu marginal, ditempatkan sebagai manusia sekunder setelah laki-laki.
Sejak 1970-an hingga 90-an kebanyakan film-film Indonesia berbau horor, kemudian pergeseran terjadi di tahun 80-an di mana film horor mulai memasukkan bumbu-bumbu adegan panas yang makin lama menjadi inti cerita dari film.
Filed under: Canting
No Comments »
Posted by PuJa on December 5, 2008
Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/
Babak baru dalam perkembangan kesenian di Indonesia dirintis sejak berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM) yang merupakan sebuah institusi kebudayaan yang berlokasi di Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Sejak 1968, secara resmi taman itu disahkan Ali Sadikin. Pementasan drama, pagelaran orkes simfoni, pertunjukan tari, pantomim, pameran lukisan hingga pusat dokumentasi sastra milik HB Jassin, [...]
Filed under: Esai
No Comments »